Begini Strategi Trisula (TRIS) Jaga Pertumbuhan dan Margin di Tengah Pelemahan Rupiah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk menjaga pertumbuhan dan profitabilitas sepanjang 2026 di tengah persaingan industri tekstil dan apparel global yang semakin kompetitif.

Direktur Utama PT Trisula International Tbk Widjaya Djohan menyatakan tantangan utama industri tekstil saat ini datang dari kompetisi yang semakin ketat dari sejumlah negara produsen besar.

Untuk menghadapi situasi tersebut, TRIS memilih bermain pada segmen pasar yang lebih spesifik atau niche market.


Baca Juga: Lampaui Target, Pengunjung IIMS Surabaya 2026 Tembus 36.203 Pengunjung

“Tantangan utama pasar tekstil global ialah persaingan yang semakin kompetitif dari pemain besar seperti China, India, Vietnam, dan Bangladesh, meliputi harga relatif murah yang dibuat secara masif,” ujar Widjaya kepada Kontan.co.id, pekan lalu. 

Perusahaan sudah menyiapkan sejumlah strategi guna menjaga pertumbuhan bisnis sepanjang tahun ini. Salah satunya mendorong diversifikasi produk dengan memproduksi produk pendukung untuk melengkapi kebutuhan pelanggan. 

TRIS juga fokus memperluas basis konsumen internasional dengan mencari peluang konsumen di negara-negara baru seiring dengan ditandatanganinya Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara Indonesia dengan Kanada dan Eropa. 

Di tengah strategi ekspansi tersebut, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor yang terus dicermati perusahaan, terutama terhadap potensi kenaikan biaya bahan baku.

Baca Juga: Eksportir Nilai DSI Masih Dini, Efektivitas Lawan Under Invoicing Belum Terlihat

Widjaya menjelaskan, hingga saat ini perusahaan masih memiliki tingkat persediaan bahan baku yang mencukupi dan order yang telah terkonfirmasi.

“TRIS menjaga ketersediaan bahan baku dengan tingkat persediaan yang mencukupi untuk sekitar tiga bulan ke depan. Hingga saat ini, order yang telah diterima TRIS juga telah terkonfirmasi sampai Juni, sejalan dengan pola konfirmasi yang umumnya berlangsung setiap tiga bulan,” jelasnya. 

Di sisi lain, dampak pelemahan rupiah terhadap biaya produksi saat ini juga masih relatif terjaga karena mayoritas bahan baku berasal dari pemasok lokal.

Sementara dari sisi profitabilitas, perusahaan menilai pelemahan rupiah belum memberikan dampak signifikan terhadap margin karena transaksi TRIS banyak berupa ekspor yang menggunakan dolar AS. 

“Namun, saat ini mayoritas bahan baku yang digunakan berasal dari pemasok lokal, sehingga dampak pelemahan rupiah terhadap biaya produksi relatif masih terjaga. Perseroan juga tetap fokus pada efisiensi dan pengelolaan supply chain untuk menjaga stabilitas margin usaha,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News