Begini Strategi UMKM Kembangkan Bisnis, Bidik Pasar B2B hingga Ekspor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) terus mencari strategi untuk memperluas pasar di tengah persaingan dan perubahan pola konsumsi masyarakat. 

Pengembangan produk, perluasan distribusi hingga membidik pasar business-to-business (B2B) dan ekspor menjadi sejumlah strategi yang dapat ditempuh untuk meningkatkan skala bisnis.

Sejumlah pelaku UMKM binaan program Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) menunjukkan strategi berbeda dalam mengembangkan usahanya. Mulai dari bisnis fashion custom, olahan pangan berbasis komoditas lokal, makanan sehat hingga produk camilan.


Strategi tersebut tidak hanya mengandalkan penjualan produk, tetapi juga dilakukan melalui diversifikasi produk, penguatan standar produksi, perluasan jaringan distribusi dan penetrasi pasar ekspor.

Fashion Custom Bidik Pasar Korporasi

Temasira mengembangkan bisnis fashion custom dengan menyasar kebutuhan korporasi. Produk yang ditawarkan tidak hanya berupa seragam dengan logo perusahaan, tetapi juga mengangkat cerita dan identitas perusahaan ke dalam desain.

Owner Temasira Ali Eunoia mengatakan, pengembangan produk dimulai dengan memahami nilai, ideologi dan kebutuhan klien sebelum diterjemahkan menjadi desain.

Dari kanal media sosial dan iklan digital, Temasira kemudian mendapatkan peluang dari pemilik bisnis yang membutuhkan produk dalam jumlah besar.

"Awalnya kami tidak kepikiran bagaimana approaching corporate. Ternyata dari iklan saja ada business owner yang datang," ujar Ali dalam keterangan resminya, Selasa (6/10/2026).

Temasira kemudian menggunakan pendekatan one-on-one untuk menggali kebutuhan calon klien. Kebutuhan tersebut berkembang tidak hanya untuk seragam kerja, tetapi juga apparel event dan merchandise.

Baca Juga: Sampoerna Jaga Kepemimpinan Pasar Semester I 2026 Meski Segmen Padat Karya SKT Turun

Dari strategi tersebut, Temasira bahkan menemukan calon klien dengan anggaran sekitar Rp1,5 miliar untuk kebutuhan apparel dan merchandise.

Selain layanan custom dengan minimum order mulai 30 pieces, Temasira juga memberikan rekomendasi material dan desain serta menyediakan opsi express production.

Olah Pisang Jadi Produk Bernilai Tambah

Bananania melihat keterbatasan daya simpan pisang sebagai peluang untuk mengembangkan produk bernilai tambah. Pisang diolah menjadi sejumlah produk seperti keripik, selai, tepung pisang gluten-free hingga cookies berbahan 100% pisang.

Owner Bananania Sofyani Mirah mengatakan, pengembangan bisnis juga dilakukan dengan melibatkan petani sebagai pemasok bahan baku.

Karena hasil kebun sendiri belum mencukupi kebutuhan produksi, Bananania bekerja sama dengan sejumlah petani. Perseroan juga menerapkan standar operasional prosedur dan quality control untuk menjaga kualitas bahan baku.

Dari sisi produksi, Bananania telah menerapkan standar Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan Good Manufacturing Practices (GMP).

Produk Bananania saat ini telah masuk ke lebih dari 600 outlet melalui kanal online dan offline. Bisnis tersebut juga mulai memperluas pasar ke luar negeri dengan ekspor ke Kanada, Malaysia, Filipina, Australia dan Amerika Serikat.

Bananania juga tengah mempersiapkan ekspansi ke Korea Selatan. Selain ekspansi pasar, perusahaan mengembangkan konsep zero waste dengan mengolah kulit pisang menjadi bahan baku enzim yang kemudian digunakan sebagai pupuk.

Produk Sambal Masuk Modern Trade

Quinn of Spicy mengembangkan bisnis sambal dengan memanfaatkan kebiasaan masyarakat Indonesia yang dekat dengan konsumsi sambal. Produk tersebut memadukan cabai dengan andaliman, rempah khas Sumatera Utara yang memberikan sensasi pedas dan aroma khas.

"Kami menggabungkannya dengan rempah khas, namanya andaliman. Menghasilkan rasa pedas dan aroma yang khas," ujar Owner Quinn of Spicy Rudy Yanto.

Sejak berdiri pada 2020, Quinn of Spicy memperluas penjualan dari kanal digital ke modern trade. Produk tersebut disebut telah terjual lebih dari 400.000 unit melalui lokapasar.

Saat ini, kapasitas produksi Quinn of Spicy mencapai sekitar 20.000 pieces per bulan dengan dukungan sekitar 25 pekerja lokal.

Selain memperluas distribusi ke jaringan modern trade di Sumatera, Quinn of Spicy juga mulai membidik pasar internasional dengan mengikuti World Food Expo dan Food Hall di Singapura.

Baca Juga: SETC Perkuat Kolaborasi Pemerintah dan Swasta untuk Dorong UMKM Naik Kelas

Bisnis tersebut juga menjalankan pemberdayaan tenaga kerja lokal dan edukasi kepada pelaku UMKM. Limbah produksi turut diolah menjadi pupuk kompos.

Granola Perluas Pasar ke Hotel

Granola Addict mengembangkan produk berbasis sereal seperti granola, muesli, premix hingga biskuit. Bisnis yang dikembangkan Owner Granola Addict Steven Kurniawan ini awalnya bertumbuh melalui lokapasar.

Namun, perubahan kondisi pasar mendorong Granola Addict mencari kanal penjualan baru. Saat pandemi Covid-19 menekan penjualan online, perusahaan mulai mengembangkan pasar business-to-business (B2B), termasuk menyasar sektor perhotelan.

Strategi tersebut kemudian membuka pasar baru, terutama di Bali yang kini menjadi salah satu pasar utama Granola Addict.

Menurut Steven, masih terdapat ribuan hotel di Indonesia yang belum digarap. Kondisi tersebut menjadi peluang ekspansi bagi perusahaan.

"Untuk pengembangan ke depannya, kita mungkin akan masuk ke daerah-daerah dengan pasar yang potensial ataupun nanti ke luar negeri," kata Steven.

Baca Juga: Sampoerna Karya Bagsa Dorong Penguatan Vokasi untuk Tingkatkan Kualitas SDM

Pengembangan pasar ke depan akan dilakukan dengan memanfaatkan relasi bisnis dan jaringan vendor yang telah dibangun perusahaan.

Camilan Sehat Bidik B2B hingga Ekspor

Casa Grata mengembangkan bisnis camilan dengan diferensiasi pada produk yang menggabungkan aspek kesehatan dan cita rasa. Sejak berdiri pada 2018, perusahaan menawarkan produk gluten-free, sugar-free dan vegan yang telah memenuhi ketentuan halal.

Owner Casa Grata Jane Tanuwijaya mengatakan, perusahaan saat ini memiliki 10 varian rasa dan terus melakukan pengembangan produk melalui product extension, termasuk cake flavors dan dip.

Dari sisi pasar, Casa Grata tidak hanya menyasar konsumen individu atau business-to-consumer (B2C). Perusahaan juga mengembangkan kanal B2B melalui online, offline event, retail, supermarket dan korporasi.

Casa Grata juga mulai membidik pasar ekspor serta menjajaki peluang kerja sama dengan buyer internasional.

Selain itu, perusahaan melihat peluang pasar dari sektor maskapai penerbangan, hotel dan resort.

Perluasan pasar tersebut dibarengi dengan peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi. Dengan diferensiasi produk dan penambahan kanal distribusi, Casa Grata berupaya memperluas akses produk di pasar domestik sekaligus membuka peluang di pasar internasional.

Perluas Pasar Jadi Strategi UMKM

Dari sejumlah contoh tersebut, ekspansi UMKM tidak hanya dilakukan dengan menambah produk. Pelaku usaha juga mengembangkan skala bisnis melalui perluasan kanal distribusi, masuk ke segmen B2B, membangun standar produksi hingga membuka pasar ekspor.

SETC merupakan program pemberdayaan UMKM yang digagas PT HM Sampoerna Tbk. di bawah payung program keberlanjutan Sampoerna Untuk Indonesia.

SETC memiliki 30 Collaborator Hub di 17 provinsi yang mendampingi lebih dari 2.300 UMKM. Jejaring tersebut diarahkan untuk memperkuat kapabilitas pelaku UMKM, membuka akses pasar dan meningkatkan daya saing usaha.

Melalui pelatihan, pendampingan, jejaring kolaborasi dan akses pasar, program tersebut mendorong pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnis dan menangkap peluang pasar yang lebih luas.

Baca Juga: Sampoerna Sebut, Pentingnya Sinergi Dunia Usaha dan Pemerintah Daerah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News