KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Usulan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI) agar Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengkaji pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan (RUKN) 2019-2038 menuai tanggapan dari berbagai kalangan. Kepala Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, Tata Mustafa bilang ada banyak alternatif sumber energi yang bisa dikembangkan ketimbang pengembangan PLTN. "Potensi tenaga surya 207 Gigawatt, tenaga angin sekitar 66 Gigawatt," ungkap Tata ketika dihubungi Kontan.co.id, Rabu (17/7). Tata menilai dampak yang dihasilkan dari pengembangan nuklir patut dipertimbangkan. Tidak hanya lingkungan, menurut Tata tenaga nuklir juga dapat memberi dampak buruk bagi masyarakat. "Bukan tidak mungkin ke depannya akan muncul penolakan-penolakan," jelas Tata. Lebih jauh Tata menjelaskan, aspek keekonomian bahkan juga patut diperhitungkan.
Begini tanggapan sejumlah pihak soal usulan kajian PLTN oleh DPR RI
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Usulan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI) agar Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengkaji pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan (RUKN) 2019-2038 menuai tanggapan dari berbagai kalangan. Kepala Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, Tata Mustafa bilang ada banyak alternatif sumber energi yang bisa dikembangkan ketimbang pengembangan PLTN. "Potensi tenaga surya 207 Gigawatt, tenaga angin sekitar 66 Gigawatt," ungkap Tata ketika dihubungi Kontan.co.id, Rabu (17/7). Tata menilai dampak yang dihasilkan dari pengembangan nuklir patut dipertimbangkan. Tidak hanya lingkungan, menurut Tata tenaga nuklir juga dapat memberi dampak buruk bagi masyarakat. "Bukan tidak mungkin ke depannya akan muncul penolakan-penolakan," jelas Tata. Lebih jauh Tata menjelaskan, aspek keekonomian bahkan juga patut diperhitungkan.