Begini Upaya Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) Genjot Produksi TBS dan CPO



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) optimis mencetak kinerja produksi sawit lebih baik di tahun ini. Hal ini tak lepas dari produksi Tandan Buah Segar (TBS) dan Crude Palm Oil (CPO) yang ditargetkan bisa tumbuh positif dibandingkan tahun lalu.

Corporate Secretary SSMS, Deni Agustinus mengatakan, perseroan memiliki target produksi TBS inti meningkat 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, produksi CPO ditargetkan tumbuh hingga 15%.

"Kami optimis produksi CPO perseroan dalam jangka panjang akan terus meningkat, seiring dengan profil usia perkebunan yang masih berada pada usia produksi prima," kata Deni kepada Kontan, Rabu (22/2).


Baca Juga: Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) Kejar Label Hijau dari Hulu ke Hilir

Deni menyampaikan, perseroan akan menggenjot produksi TBS dan CPO tahun ini dengan sejumlah aktivitas agronomis, seperti melakukan pemupukan dan pemeliharaan yang optimal sehingga buah yang dihasilkan dapat maksimal serta memiliki kualitas terbaik. 

Aktivitas ini juga didukung oleh perseroan yang berkomitmen pada aspek ESG (Environmental, Social, and Governance) melalui program keberlanjutan. Saat ini SSMS telah merampungkan seluruh operasionalnya yang telah tersertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil).

"Perseroan memastikan perkebunannya telah sesuai dengan praktik terbaik atau best practices seperti yang diamanatkan dalam RSPO dan ISPO, sehingga daya saing produk sawit dan turunannya di pasar domestik dan ekspor dapat meningkat karena SSMS telah memenuhi aspek yang diminta konsumen, yakni aspek keberlanjutan," ujarnya.

Namun, sayangnya SSMS belum bisa merinci berapa nilai pendapatan dan laba yang diincar tahun ini.

"Kami terus berupaya untuk dapat memberikan hasil yang positif untuk seluruh pemangku kepentingan, dengan menargetkan pendapatan yang lebih baik dari tahun sebelumnya," terangnya.

 
SSMS Chart by TradingView

Yang jelas, pada tahun 2024 SSMS menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 1,2 triliun untuk menunjang kegiatan produksi perseroan.

"Capex dialokasikan untuk pemeliharaan perkebunan dan pemupukan, serta pengembangan mekanisasi dan infrastruktur lainnya," ucapnya.

Dalam upaya mendukung program hilirisasi, perseroan kini tengah berfokus memenuhi kebutuhan sekitar 80% dari utilisasi pabrik PT Citra Borneo Utama (CBUT).

"Selain karena utilisasi produksi yang tinggi, permintaan produk hilirisasi CBUT juga semakin meningkat, seperti produksi turunan dari CPO berupa produk RBDPO (refined, bleached, and deodorized palm oil) dan lain-lain," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .