JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai aksi jual paksa (forced sell) tak dapat dihindari di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok. Tapi, kondisi IHSG yang sudah mulai menguat menjadi indikasi jika sebenarnya pelaku pasar sudah mulai tenang."Tapi jika forced sell terjadi, dampaknya tidak akan sebesar di 2008 lalu, karena sekarang broker-broker kita lebih pruden dan disiplin. Marginnya paling hanya 1:1 atau 1:2 saja," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito di Jakarta, Jumat (23/9).Menurutnya dengan kondisi pasar yang anjlok kemarin, memang keadaan forced sell tidak dapat dihindari. Dan saat ini BEI masih akan memonitoring broker-broker. "Baru bisa tahu ada yang nakal kan setelah tiga hari, jadi pada Selasa nanti baru kita tahu apa ada yang mengambil keuntungan di pasar," lanjutnya. Namun, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Uriep Budhi Prasetyo mengklaim, penurunan IHSG kemarin bukan terjadi karena banyaknya investor yang terkena jual paksa di transaksi margin. Dia menyebut, justru ada investor yang memperbesar size margin masuk setelah IHSG anjlok. "Jika dilihat dan dianalisa, tidak terjadi penuruan drastis dalam trasaksi margin, malah jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya ada kenaikan," jelasnya, di Jakarta, hari ini (23/9). Uriep mencatat, kemarin, kenaikan di transaksi margin mencapai Rp 200 miliar, lebih tinggi dari transaksi hari-hari sebelumnya.
BEI: Forced sell bisa terjadi, tapi tak akan sedahsyat 2008
JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai aksi jual paksa (forced sell) tak dapat dihindari di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok. Tapi, kondisi IHSG yang sudah mulai menguat menjadi indikasi jika sebenarnya pelaku pasar sudah mulai tenang."Tapi jika forced sell terjadi, dampaknya tidak akan sebesar di 2008 lalu, karena sekarang broker-broker kita lebih pruden dan disiplin. Marginnya paling hanya 1:1 atau 1:2 saja," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito di Jakarta, Jumat (23/9).Menurutnya dengan kondisi pasar yang anjlok kemarin, memang keadaan forced sell tidak dapat dihindari. Dan saat ini BEI masih akan memonitoring broker-broker. "Baru bisa tahu ada yang nakal kan setelah tiga hari, jadi pada Selasa nanti baru kita tahu apa ada yang mengambil keuntungan di pasar," lanjutnya. Namun, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Uriep Budhi Prasetyo mengklaim, penurunan IHSG kemarin bukan terjadi karena banyaknya investor yang terkena jual paksa di transaksi margin. Dia menyebut, justru ada investor yang memperbesar size margin masuk setelah IHSG anjlok. "Jika dilihat dan dianalisa, tidak terjadi penuruan drastis dalam trasaksi margin, malah jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya ada kenaikan," jelasnya, di Jakarta, hari ini (23/9). Uriep mencatat, kemarin, kenaikan di transaksi margin mencapai Rp 200 miliar, lebih tinggi dari transaksi hari-hari sebelumnya.