BEI Klaim Fundamental Pasar Modal Masih Solid



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengklaim fundamental pasar saham Indonesia masih solid.

Berdasarkan laporan BEI tanggal 18 Oktober 2026, laba bersih seluruh emiten di Bursa tercatat naik 16,25% YoY per Juni 2026. Laba bersih emiten LQ45 juga naik 18,49% YoY di periode yang sama.

Sepanjang semester I-2026, sebanyak 74% perusahaan yang mencatat laba. Sektor energi menjadi sektor yang mencatat pertumbuhan laba tertinggi sepanjang semester I-2026, yaitu sebesar 78,28%.


Lalu, diikuti oleh sektor basic materials yang naik 34,84%, consumer non cyclicals 31,29%, transportation & logistics 28,1%, serta infrastructures 13,41%.

Baca Juga: IHSG Terperosok Usai Pengumuman MSCI, Analis Waspadai Koreksi Lanjutan

Alhasil, valuasi saham diklaim relatif murah jika dilihat dari perbandingan antara price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV) dengan koreksi imbal hasil year to date (YTD).

“Penurunan harga saham membuat valuasi pasar Indonesia menjadi salah satu yang paling menarik di dunia. Secara historis, pemulihan IHSG pasca koreksi berlangsung relatif cepat,” kata dokumen BEI yang diterima pada Minggu (18/10/2026).

Pasar saham tercatat amblas di akhir perdagangan pekan lalu imbas pengumuman MSCI terkait pertimbangan reklasifikasi Bursa Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di level 5.185,10 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari Jumat (16/10/2026) lalu, turun 11,57% dalam sehari. 

Ini merupakan imbas pengumuman MSCI yang meluncurkan konsultasi atas usulan reklasifikasi MSCI Indonesia Indexes dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dengan keputusan akhir paling lambat akhir Juni 2027.

Sejak awal tahun, IHSG sudah mengakumulasi penurunan sebesar 40,04% year to date (YTD).

Dalam catatan KONTAN, BEI telah menegaskan klasifikasi standalone market yang diusulkan MSCI untuk pasar modal Indonesia bukan klasifikasi terendah. BEI juga menyebut skala pasar Indonesia tetap berada di level emerging market.

Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi menjelaskan, market standalone lazimnya dipakai untuk pasar yang memerlukan perhatian atau pengawasan lebih lanjut, termasuk pasar-pasar baru. Maka dari itu, penempatan di kategori ini tidak otomatis berarti peringkat pasar paling rendah.

Baca Juga: Indeks Dolar AS Diproyeksi Tembus 104, Rupiah Diproyeksi Melayang ke Rp 18.300

"Standalone itu klasifikasi terpisah. Jadi klasifikasi standarnya ada tiga, advance, emerging, sama frontier. Nah standalone itu biasanya digunakan untuk market yang baru yang memang memerlukan pengawasan lebih jauh," kata Iding di gedung BEI, Jumat (16/10/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News