BEI Perluas Daftar Saham HSC Jadi 63 Saham Masuk, Ini yang Perlu Dicermati Investor?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas cakupan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) menjadi 63 saham melalui metodologi baru. Meski begitu, saham yang masuk kategori ini belum tentu berprospek buruk. Investor tetap perlu melihat fundamental, likuiditas, dan valuasi setiap perusahaan.

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai perluasan cakupan HSC memberi informasi tambahan bagi investor untuk memahami struktur kepemilikan saham dan mengukur risikonya sebelum berinvestasi.

Menurutnya, masuknya saham ke daftar HSC tidak berarti perusahaan tersebut melanggar aturan, dan sahamnya juga tidak harus langsung dijual. Investor sebaiknya menilai kondisi perusahaan secara menyeluruh, termasuk kinerja keuangan dan respons pasar terhadap sahamnya.


Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham EXCL, MEDC, ACES untuk Rabu (14/10)

Dari daftar saham HSC, ada dua emiten yang bisa masuk radar investor, yaitu PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Samator Indo Gas Tbk (AGII). Keduanya punya pendorong bisnis yang berbeda.

DSSA menarik dipantau lewat perkembangan bisnis digitalnya. Pada semester I-2026, pendapatannya naik 34% secara tahunan menjadi US$ 1,77 miliar, sedangkan laba bersihnya melonjak 79,6% menjadi US$ 174,4 juta. Perusahaan juga sedang membangun pusat data untuk kecerdasan buatan (AI) bernama SMX01 yang ditargetkan beroperasi pada kuartal IV-2026, dan telah bekerja sama dengan iFLYTEK di bidang AI. Perkembangan proyek digital ini perlu diikuti untuk menilai prospek pertumbuhan DSSA ke depan.

Sementara itu, AGII didorong oleh membaiknya kinerja operasional. Pada semester I-2026, EBITDA-nya mencapai rekor sekitar Rp 452,5 miliar, dan laba bersihnya naik hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun fundamental yang bagus belum tentu membuat sebuah saham layak dibeli di harga berapa pun. Investor tetap perlu memperhatikan valuasi, harga saham terkini, dan konfirmasi teknikal sebelum mengambil keputusan.

Saham HSC juga membawa sejumlah risiko. Kepemilikan yang terkonsentrasi bisa berarti jumlah saham yang beredar di publik sangat terbatas, sehingga investor perlu mencermati free float, volume transaksi, dan potensi harga yang bergejolak. Ada pula risiko saham tidak lagi masuk atau dikeluarkan dari indeks acuan, tergantung ketentuan penyedia indeks. Jika itu terjadi, minat reksa dana indeks dan investor institusi yang mengikuti indeks tersebut bisa berkurang, sehingga tekanan jual bertambah.

Karena itu, status HSC sebaiknya tidak menjadi satu-satunya alasan untuk membeli atau menjual saham. Fundamental perusahaan, kewajaran valuasi, likuiditas, dan pergerakan harga tetap perlu dinilai agar keputusan investasi sesuai dengan profil risiko masing-masing.

Baca Juga: AUD dan NZD Berpeluang Menguat, Cermati Level Teknisnya hingga Akhir Tahun 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News