KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan evaluasi mayor terhadap indeks small-mid cap (SMC) Liquid yang berisikan saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah dengan likuiditas mumpuni. Rebalancing ini berpotensi memengaruhi prospek indeks tersebut dalam beberapa waktu mendatang. Dari hasil evaluasi yang diumumkan BEI pada Rabu (28/7) malam, terdapat 8 konstituen baru yang menjadi bagian IDX SMC Liquid. Di antaranya adalah saham CYBR, EMTK, EXCL, INKP, KLBF, LPPF, MTEL, dan PTRO. Di sisi lain, ada 4 konstituen yang keluar dari penghitungan indeks, yaitu CNMA, MNCN, PTPP, dan SRTG. Periode efektif konstituen ini ditetapkan mulai dari 5 Agustus 2026 sampai 2 Februari 2027. Adapun periode efektif jumlah saham penghitungan indeks akan berlaku mulai dari 5 Agustus 2026 sampai 3 November 2026. Baca Juga: Kas Jumbo Emiten, Peluang atau Sekadar Bantalan? Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Hari Rachmansyah mengatakan, masuknya CYBR, EMTK, EXCL, INKP, KLBF, LPPF, MTEL, dan PTRO ke IDX SMC Liquid menunjukkan bahwa saham-saham tersebut memenuhi kriteria kapitalisasi pasar kecil-menengah dan memiliki tingkat likuiditas yang memadai. Dalam jangka pendek, saham pendatang baru tersebut berpotensi memperoleh sentimen positif dari peningkatan perhatian investor dan penyesuaian portofolio produk investasi yang menjadikan IDX SMC Liquid sebagai acuan. Namun, kenaikan harga pada awal periode efektif tidak otomatis terjadi, karena pasar biasanya sudah melakukan antisipasi terhadap harga saham sejak pengumuman rebalancing. "Besarnya dampak juga bergantung pada dana kelolaan produk yang mengikuti indeks tersebut," ujar dia, Kamis (30/7). Secara umum, lanjut dia, saham pendatang baru seperti EXCL, KLBF, MTEL, INKP, dan PTRO berpotensi menjadi penopang IDX SMC Liquid karena memiliki kapitalisasi dan aktivitas transaksi yang relatif lebih besar. Sebaliknya, nasib saham CYBR, EMTK, dan LPPF bakal lebih bergantung pada katalis spesifik masing-masing emiten. Sementara itu, untuk saham yang keluar seperti CNMA, MNCN, PTPP, dan SRTG, penghapusan dari IDX SMC Liquid dapat menimbulkan tekanan teknikal sementara akibat penyesuaian portofolio. Namun, keluar dari indeks tidak serta-merta menunjukkan fundamental emiten yang bersangkutan memburuk. Setelah efek rebalancing selesai, harga saham akan kembali ditentukan oleh laba, arus kas, aksi korporasi, dan prospek bisnis masing-masing. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menyampaikan, rebalancing yang terjadi pada indeks SMC Liquid lebih mencerminkan adanya perubahan likuiditas dan kapitalisasi pasar, alih-alih kualitas fundamental emiten. Saham-saham seperti KLBF, EMTK, EXCL, dan MTEL berpotensi menjadi penopang indeks tersebut karena fundamental dan likuiditasnya relatif kuat. Di sisi lain, CYBR, INKP, dan PTRO menawarkan potensi pertumbuhan tetapi dengan volatilitas yang lebih tinggi. "Pada awal periode efektif Agustus bisa terjadi technical buying dari dana pasif, tetapi dampaknya hanya sementara," kata dia, Kamis (30/7). Baca Juga: Bitcoin Tertekan Sentimen Global, Diversifikasi Bisa Jadi Kunci Investasi Sebaliknya, saham-saham yang keluar dari indeks berpotensi mengalami tekanan jual jangka pendek, meskipun prospek jangka panjang bakal tetap ditentukan oleh fundamental masing-masing emiten. Budi melanjutkan, secara umum prospek saham-saham lapis kedua pada semester II-2026 diperkirakan bakal lebih baik dibandingkan semester I-2026 apabila kondisi makro membaik. Dalam kondisi pasar yang normal, indeks SMC Liquid berpeluang mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), karena saham berkapitalisasi menengah umumnya memiliki ruang pertumbuhan yang lebih besar. "Namun, kinerjanya tetap akan dipengaruhi oleh arah suku bunga, arus dana asing, stabilitas rupiah, serta pertumbuhan laba emiten," tutur dia. Hari menyebut, saham-saham kecil-menengah umumnya volatilitas lebih tinggi dan likuiditas lebih rendah dibandingkan saham-saham utama di IHSG. Oleh karena itu, IDX SMC Liquid cenderung lebih unggul ketika kondisi pasar kondusif dan investor memiliki selera risiko yang tinggi. Di sisi lain, ketika pasar mengalami tekanan, investor biasanya kembali memilih saham berkapitalisasi besar yang dianggap lebih likuid dan defensif. Menurut dia, sentimen utama yang dapat memengaruhi nasib saham-saham lapis kedua pada sisa tahun ini antara lain arah suku bunga Bank Indonesia (BI) dan The Fed, nilai tukar rupiah, harga komoditas, pertumbuhan konsumsi domestik, arus dana asing, serta kualitas laporan keuangan semester I dan kuartal III-2026. Hari meneruskan, sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital berpeluang menjadi tulang punggung indeks SMC Liquid hingga akhir 2026. Dalam hal ini, saham seperti EXCL dan MTEL dapat memperoleh manfaat dari pertumbuhan konsumsi data, ekspansi jaringan, efisiensi industri, serta kebutuhan infrastruktur digital. "Pendapatannya juga relatif berulang, meskipun pertumbuhan tetap bergantung pada belanja modal operator dan keberhasilan konsolidasi industri," katanya. Selain itu, sektor kesehatan dan farmasi juga bisa menjadi andalan bagi indeks SMC Liquid. Di sini, saham KLBF berpeluang jadi penopang yang defensif karena permintaan obat, produk kesehatan, dan nutrisi relatif stabil dalam berbagai kondisi ekonomi.
BEI Rebalancing Indeks SMC Liquid, Delapan Saham Jadi Penghuni Baru Simak Prospeknya
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan evaluasi mayor terhadap indeks small-mid cap (SMC) Liquid yang berisikan saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah dengan likuiditas mumpuni. Rebalancing ini berpotensi memengaruhi prospek indeks tersebut dalam beberapa waktu mendatang. Dari hasil evaluasi yang diumumkan BEI pada Rabu (28/7) malam, terdapat 8 konstituen baru yang menjadi bagian IDX SMC Liquid. Di antaranya adalah saham CYBR, EMTK, EXCL, INKP, KLBF, LPPF, MTEL, dan PTRO. Di sisi lain, ada 4 konstituen yang keluar dari penghitungan indeks, yaitu CNMA, MNCN, PTPP, dan SRTG. Periode efektif konstituen ini ditetapkan mulai dari 5 Agustus 2026 sampai 2 Februari 2027. Adapun periode efektif jumlah saham penghitungan indeks akan berlaku mulai dari 5 Agustus 2026 sampai 3 November 2026. Baca Juga: Kas Jumbo Emiten, Peluang atau Sekadar Bantalan? Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Hari Rachmansyah mengatakan, masuknya CYBR, EMTK, EXCL, INKP, KLBF, LPPF, MTEL, dan PTRO ke IDX SMC Liquid menunjukkan bahwa saham-saham tersebut memenuhi kriteria kapitalisasi pasar kecil-menengah dan memiliki tingkat likuiditas yang memadai. Dalam jangka pendek, saham pendatang baru tersebut berpotensi memperoleh sentimen positif dari peningkatan perhatian investor dan penyesuaian portofolio produk investasi yang menjadikan IDX SMC Liquid sebagai acuan. Namun, kenaikan harga pada awal periode efektif tidak otomatis terjadi, karena pasar biasanya sudah melakukan antisipasi terhadap harga saham sejak pengumuman rebalancing. "Besarnya dampak juga bergantung pada dana kelolaan produk yang mengikuti indeks tersebut," ujar dia, Kamis (30/7). Secara umum, lanjut dia, saham pendatang baru seperti EXCL, KLBF, MTEL, INKP, dan PTRO berpotensi menjadi penopang IDX SMC Liquid karena memiliki kapitalisasi dan aktivitas transaksi yang relatif lebih besar. Sebaliknya, nasib saham CYBR, EMTK, dan LPPF bakal lebih bergantung pada katalis spesifik masing-masing emiten. Sementara itu, untuk saham yang keluar seperti CNMA, MNCN, PTPP, dan SRTG, penghapusan dari IDX SMC Liquid dapat menimbulkan tekanan teknikal sementara akibat penyesuaian portofolio. Namun, keluar dari indeks tidak serta-merta menunjukkan fundamental emiten yang bersangkutan memburuk. Setelah efek rebalancing selesai, harga saham akan kembali ditentukan oleh laba, arus kas, aksi korporasi, dan prospek bisnis masing-masing. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menyampaikan, rebalancing yang terjadi pada indeks SMC Liquid lebih mencerminkan adanya perubahan likuiditas dan kapitalisasi pasar, alih-alih kualitas fundamental emiten. Saham-saham seperti KLBF, EMTK, EXCL, dan MTEL berpotensi menjadi penopang indeks tersebut karena fundamental dan likuiditasnya relatif kuat. Di sisi lain, CYBR, INKP, dan PTRO menawarkan potensi pertumbuhan tetapi dengan volatilitas yang lebih tinggi. "Pada awal periode efektif Agustus bisa terjadi technical buying dari dana pasif, tetapi dampaknya hanya sementara," kata dia, Kamis (30/7). Baca Juga: Bitcoin Tertekan Sentimen Global, Diversifikasi Bisa Jadi Kunci Investasi Sebaliknya, saham-saham yang keluar dari indeks berpotensi mengalami tekanan jual jangka pendek, meskipun prospek jangka panjang bakal tetap ditentukan oleh fundamental masing-masing emiten. Budi melanjutkan, secara umum prospek saham-saham lapis kedua pada semester II-2026 diperkirakan bakal lebih baik dibandingkan semester I-2026 apabila kondisi makro membaik. Dalam kondisi pasar yang normal, indeks SMC Liquid berpeluang mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), karena saham berkapitalisasi menengah umumnya memiliki ruang pertumbuhan yang lebih besar. "Namun, kinerjanya tetap akan dipengaruhi oleh arah suku bunga, arus dana asing, stabilitas rupiah, serta pertumbuhan laba emiten," tutur dia. Hari menyebut, saham-saham kecil-menengah umumnya volatilitas lebih tinggi dan likuiditas lebih rendah dibandingkan saham-saham utama di IHSG. Oleh karena itu, IDX SMC Liquid cenderung lebih unggul ketika kondisi pasar kondusif dan investor memiliki selera risiko yang tinggi. Di sisi lain, ketika pasar mengalami tekanan, investor biasanya kembali memilih saham berkapitalisasi besar yang dianggap lebih likuid dan defensif. Menurut dia, sentimen utama yang dapat memengaruhi nasib saham-saham lapis kedua pada sisa tahun ini antara lain arah suku bunga Bank Indonesia (BI) dan The Fed, nilai tukar rupiah, harga komoditas, pertumbuhan konsumsi domestik, arus dana asing, serta kualitas laporan keuangan semester I dan kuartal III-2026. Hari meneruskan, sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital berpeluang menjadi tulang punggung indeks SMC Liquid hingga akhir 2026. Dalam hal ini, saham seperti EXCL dan MTEL dapat memperoleh manfaat dari pertumbuhan konsumsi data, ekspansi jaringan, efisiensi industri, serta kebutuhan infrastruktur digital. "Pendapatannya juga relatif berulang, meskipun pertumbuhan tetap bergantung pada belanja modal operator dan keberhasilan konsolidasi industri," katanya. Selain itu, sektor kesehatan dan farmasi juga bisa menjadi andalan bagi indeks SMC Liquid. Di sini, saham KLBF berpeluang jadi penopang yang defensif karena permintaan obat, produk kesehatan, dan nutrisi relatif stabil dalam berbagai kondisi ekonomi.