BEI Rilis Daftar Saham Terkonsentrasi Tinggi, Begini Respons Bahana TCW



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) di atas 95% per 31 Maret 2026.

Total terdapat sembilan emiten yang masuk dalam kategori tersebut, mencerminkan kepemilikan saham yang sangat terpusat pada pihak tertentu.

Saham-saham tersebut antara lain PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) dengan konsentrasi 95,47%, PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) 97,75%, PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) 98,35%, serta PT Ifishdeco Tbk (IFSH) yang mencapai 99,77%. 


Selain itu, terdapat PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) sebesar 95,94%, PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) 99,85%, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) 95,35%, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) 95,76%, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 97,31%.

Baca Juga: OJK dan BEI Akan Bertemu Dengan MSCI Pasca Tuntaskan 4 Agenda Reformasi Pasar Modal

Manajer investasi PT Bahana TCW Investment Management menilai publikasi daftar tersebut sebagai langkah positif bagi perkembangan pasar modal Indonesia. 

Transparansi ini dinilai dapat menjadi pijakan penting bagi investor dalam memahami struktur kepemilikan saham sebelum mengambil keputusan investasi. 

"Transparansi informasi merupakan hal yang sangat penting untuk pengambilan keputusan dalam dunia investasi," ujar Presiden Direktur sekaligus Direktur Pemasaran Bahana TCW, Danica Adhitama, Rabu (8/4).

Meski demikian, Bahana TCW belum mengungkap secara rinci eksposur reksadana mereka terhadap saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi tersebut. 

Baca Juga: Indeks ESG Kian Penting di BEI, Tantangan Data Masih Terus Membayangi

Terkait kemungkinan penyesuaian portofolio, perusahaan juga masih bersikap hati-hati dan menunggu kejelasan lebih lanjut dari BEI.

Bahana TCW menyatakan masih perlu mempelajari metode perhitungan yang digunakan dalam penentuan daftar tersebut sebelum menjadikannya sebagai dasar dalam pengambilan keputusan investasi. 

Untuk saat ini, manajer investasi tersebut memilih menunggu panduan lanjutan dari BEI sebelum menentukan langkah berikutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News