BEI Rilis IDX Commodity 20, Investor Cermati Peluang Saham Komoditas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi meluncurkan indeks baru bernama IDX Commodity 20 pada 30 Oktober 2026.

Kehadiran indeks ini diharapkan menjadi acuan strategis bagi pelaku pasar dalam menangkap peluang dan mengelola portofolio pada 20 saham perusahaan penghasil komoditas maupun rantai pasoknya yang memiliki kapitalisasi pasar serta likuiditas transaksi yang baik.

Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi menjelaskan bahwa pembentukan kerangka ukur ini dirancang untuk membantu investor memantau kinerja saham-saham dari berbagai industri komoditas, mulai dari energi, logam, kimia, hingga pertanian.


Keberadaan daftar acuan ini juga diyakini dapat mendukung pengembangan strategi diversifikasi portofolio secara lebih terarah bagi para Manajer Investasi (MI).

Baca Juga: Ekspor Melonjak, Yuan Cetak Level Terkuat sejak April 2022

"Selain itu, IDX Commodity 20 membuka peluang bagi penciptaan produk investasi berbasis indeks, seperti reksadana indeks maupun Exchange-Traded Fund (ETF), yang memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap saham-saham perusahaan berbasis komoditas melalui instrumen investasi yang terukur dan transparan," jelas Iding kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Secara teknis, indeks yang memiliki hari dasar pada 1 September 2021 dengan nilai dasar 100 ini menggunakan metode Capped Adjusted Free Float Market Capitalization Weighted.

BEI menerapkan pembatasan bobot saham maksimal sebesar 15% pada saat evaluasi.

Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menempati porsi tertinggi dengan bobot 15,00%, disusul oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan bobot 11,35%, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar 10,88%.

Merespons peluncuran ini, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai kehadiran indeks tersebut sangat relevan untuk mencermati perubahan siklus harga komoditas global.

Meskipun BEI telah melakukan seleksi ketat berdasarkan keaktifan perdagangan serta mengeluarkan emiten dengan catatan High Shareholding Concentration (HSC), karakteristik perdagangan saham berkapitalisasi jumbo tetap berbeda dibandingkan saham beraktivitas terbatas sehingga likuiditas antaranggota tidak sepenuhnya merata.

Baca Juga: Amman Mineral (AMMN) Cetak Laba US$ 880 Juta hingga September, Berbalik dari Rugi

"Karena itu, investor tetap perlu memperhatikan nilai transaksi harian, bid-offer spread, dan kedalaman pasar masing-masing saham. Masuknya suatu saham ke indeks tidak otomatis menjamin likuiditasnya selalu tinggi," terang Alrich kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Menilik prospek pergerakannya ke depan, laju IDX Commodity 20 akan sangat bergantung pada dinamika fundamental makro, seperti harga komoditas dunia, tingkat permintaan global, serta pemulihan ekonomi China sebagai konsumen utama.

Sebagai strategi alokasi, analis merekomendasikan pelaku pasar untuk mencermati saham ANTM dan INCO yang ditopang prospek pemulihan industri baterai kendaraan listrik, MEDC yang didorong oleh sentimen penguatan energi global, serta potensi arus kas yang solid dari emiten batu bara seperti ADRO dan AADI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News