BEI Rombak Indeks KOMPAS100, Ini Rekomendasi Analis untuk Saham yang Dibeli & Dijual



KONTAN.CO.ID  - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi merombak konstituen Indeks KOMPAS100 melalui evaluasi mayor yang berlaku efektif mulai 3 Agustus 2026. Sebanyak sembilan saham keluar dari indeks dan digantikan oleh sembilan emiten baru.

Saham yang terdepak dari Indeks KOMPAS100 meliputi PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT MD Pictures Tbk (FILM), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), serta PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).

Posisi kesembilan saham tersebut digantikan oleh PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), PT Hartadinata Abadi Tbk (EMAS), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), dan PT RMK Energy Tbk (RMKE).


Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai saham-saham yang keluar dari Indeks KOMPAS100 berpotensi mengalami tekanan jual dalam jangka pendek akibat penyesuaian portofolio oleh reksa dana indeks maupun manajer investasi yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan.

"Dengan keluarnya suatu saham dari indeks, bobot saham tersebut dalam portofolio benchmark menjadi nol sehingga berpotensi memicu passive outflow," ujar Nafan kepada Kontan, Senin (27/7).

Baca Juga: Laba Ambles di Semester I, Ancora (OKAS) Optimistis dengan Prospek Kinerja Tahun 2026

Meski demikian, Nafan menilai dampak rebalancing Indeks KOMPAS100 tidak akan sebesar perubahan komposisi indeks global seperti MSCI maupun FTSE Russell. Pasalnya, dana kelolaan yang mengacu pada Indeks KOMPAS100 masih relatif lebih kecil.

"Dampaknya terhadap harga saham cenderung bersifat terbatas dan lebih banyak terjadi di sekitar tanggal efektif rebalancing," katanya.

Menurut Nafan, perubahan konstituen KOMPAS100 lebih didasarkan pada evaluasi likuiditas dan kapitalisasi pasar. Karena itu, keluarnya suatu saham dari indeks tidak selalu mencerminkan memburuknya fundamental perusahaan.

Ia menilai sejumlah emiten yang dikeluarkan dari indeks, seperti BREN, DSSA, MTEL, SIDO, HMSP, dan INTP, tetap memiliki fundamental yang kuat sehingga tekanan akibat passive outflow berpotensi hanya bersifat sementara.

"Jika fundamental perusahaan tetap solid, tekanan akibat passive outflow pasca rebalancing sering kali hanya bersifat sementara dan dapat membuka peluang akumulasi," jelasnya.

Tonton: Warren Buffett Bakal Lepas Harta Rp2 508 T Seluruh Saham Diserahkan ke Anak Anaknya

Sebaliknya, saham-saham yang baru masuk ke dalam Indeks KOMPAS100 berpeluang memperoleh passive inflow karena mulai masuk ke portofolio investor dan produk investasi yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan.

Selain meningkatkan potensi permintaan saham, status sebagai konstituen Indeks KOMPAS100 juga dinilai dapat memperluas eksposur emiten di kalangan investor institusi serta meningkatkan likuiditas perdagangan di pasar.

"Status sebagai konstituen KOMPAS100 juga dapat meningkatkan visibilitas emiten di mata investor institusi sekaligus memperbaiki likuiditas perdagangan saham," tutur Nafan.

Dari sembilan emiten yang masuk dalam Indeks KOMPAS100, Nafan menjagokan saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Ia merekomendasikan add untuk saham GGRM dengan target harga sebesar Rp 18.500 per saham.  

Disorot Moody's, Saham Danantara Malah Kalahkan IHSG
© 2026 Konten oleh Kontan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: