KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) buka suara terkait potensi pembukaan kembali kode broker. Jeffrey Hendrik, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI mengatakan, pihaknya membuka peluang terkait pembukaan kode broker. Namun, hal tersebut saat ini tak menjadi agenda prioritas Bursa. “Kalau ditanya apakah mungkin, tentu tidak ada hal yang tidak mungkin. Namun, prioritas kami saat ini adalah meningkatkan transparansi pemegang saham yang perlu diketahui publik secara lebih jelas,” katanya dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (9/2/2026).
Baca Juga: IHSG Menguat ke 8.070,8 di Pagi Ini (10/2), Top Gainers LQ45: MBMA, SCMA, ISAT Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana berpandangan, wacana dibukanya kembali kode broker secara real-time patut diapresiasi sebagai langkah progresif menuju pasar modal yang lebih transparan. Pasar saham pada dasarnya hidup dari kepercayaan, dan kepercayaan hanya tumbuh ketika informasi tersedia secara adil bagi seluruh pelaku pasar. Dalam perspektif ekonomi pasar modal, keterbukaan kode broker bukan bertujuan mengarahkan perilaku investor, melainkan menyediakan data yang cukup agar investor dapat mengambil keputusan secara rasional. “Bursa idealnya berperan sebagai penyedia infrastruktur dan informasi, bukan sebagai penentu bagaimana investor harus bersikap di pasar,” ujarnya dalam riset yang diterima Kontan, Senin. Selama ini, keterbatasan akses terhadap data transaksi real-time membuat asimetri informasi semakin lebar, terutama antara investor besar dan investor ritel. Investor dengan sumber daya lebih kuat tetap bisa membaca arah transaksi melalui berbagai pendekatan. Sementara, investor ritel harus berspekulasi dengan informasi yang tidak lengkap. Dalam kondisi seperti ini, pasar justru menjadi kurang efisien. “Dengan membuka kembali kode broker secara
real-time, mekanisme
price discovery dapat berjalan lebih sehat karena pelaku pasar bisa menilai apakah pergerakan harga didorong oleh akumulasi, distribusi, atau hanya volatilitas jangka pendek,” ungkapnya.
Baca Juga: FTSE Tunda Review Index Indonesia Periode Maret 2026, Ini Hasil Pertemuan dengan BEI Menurut Hendra, kekhawatiran bahwa keterbukaan kode broker akan mendorong perilaku ikut-ikutan atau
herd behavior sebenarnya lebih berkaitan dengan literasi dan kedewasaan investor, bukan pada datanya itu sendiri. Di banyak pasar maju, transparansi justru menjadi fondasi utama pengawasan pasar. Investor diberi informasi seluas-luasnya, sementara regulator fokus memastikan tidak ada manipulasi,
insider trading, atau praktik tidak wajar. “Artinya, yang diatur adalah perilaku yang melanggar aturan, bukan preferensi atau strategi investasi masing-masing pelaku pasar,” paparnya. Dari sudut pandang jangka panjang, keterbukaan data transaksi juga akan memperkuat kredibilitas bursa. Pasar yang transparan cenderung lebih dipercaya oleh investor institusi global, karena mereka membutuhkan visibilitas yang jelas atas likuiditas dan struktur transaksi. Hendra menegaskan, jika tujuan besar BEI adalah memperdalam pasar dan menarik dana jangka panjang, maka transparansi bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan.
“Bursa yang terlalu protektif terhadap informasi justru berisiko menimbulkan persepsi bahwa ada sesuatu yang disembunyikan,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News