KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan harga teoretis rights issue PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA). Asal tahu saja, BUVA berencana menambah modal lewat Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) atau right issue. Dalam aksi korporasi ini, BUVA menawarkan 6.154.263.660 saham baru bernilai nominal Rp 50 per saham, sekitar 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah right issue.
Baca Juga: Penerbitan Surat Utang Korporasi Mencapai Rp 139,65 Triliun hingga September 2026 Harga pelaksanaannya Rp 250 per saham, sehingga dana yang masuk ke kas perusahaan mencapai Rp 1.538.565.915.000 atau Rp 1,53 triliun. Pande Made Kusuma Ari A, Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI mengatakan, rasio HMETD BUVA adalah 4:1 untuk saham. Artinya, setiap pemegang 4 saham lama BUVA mempunyai 1 HMETD untuk membeli 1 saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham. Harga saham BUVA pada saat akhir cum di pasar reguler tanggal 13 Oktober 2026 tercatat pada harga Rp590. Bursa menghitung, harga teoretis untuk pedoman tawar menawar dan penghitungan Indeks Harga Saham BEI serta Indeks Harga Saham Individual berdasarkan formula menjadi Rp 522. “Harga teoretis saham BUVA yang dicantumkan di JATS untuk pasar reguler dan pasar negosiasi pada tanggal 14 Oktober 2026 disesuaikan dengan fraksi harga menjadi Rp 520,” katanya dalam keterbukaan informasi tanggal 14 Oktober 2026. Penyesuaian harga dasar untuk penghitungan Indeks harga saham individual BUVA ditetapkan berdasarkan formula menjadi 98,773. Melansir RTI, BUVA saat ini ada di level Rp 525 per saham. Sejak awal tahun, sahamnya turun 62,23%
year to date (YTD). Berdasarkan pemberitaan sebelumnya,
seluruh dana hasil right issue BUVA akan digunakan untuk modal kerja dan pembayaran kewajiban utang. Secara rinci, alokasi terbesar, Rp426,34 miliar, disalurkan BUVA ke PT Bukit Bali Permai (BBP) paling lambat triwulan IV 2026. BBP kemudian membaginya menjadi dua tahap. Tahap pertama, sebanyak Rp199,26 miliar, dipakai mengambil alih saham PT Royal Uluwatu Residence (RUR) untuk memperluas portofolio grup di Uluwatu. Targetnya selesai paling lambat Desember 2026. Tahap kedua, dana sebesar Rp227,08 miliar, berupa tambahan modal ke RUR paling lambat triwulan IV 2027. RUR akan memakainya untuk pengembangan lahan dan belanja modal konstruksi, termasuk infrastruktur serta sarana prasarana, dalam proyek yang disebut Pengembangan West Resort di Uluwatu. Pelaksanaannya bertahap dan ditargetkan rampung paling lambat triwulan IV 2029. Selanjutnya, alokasi dana Rp417,80 miliar dialokasikan untuk membayar lebih cepat seluruh pokok utang BUVA berdasarkan perjanjian pembiayaan dengan Bank Mandiri.
Kemudian, dana Rp150 miliar akan disetorkan sebagai tambahan modal kepada PT Bukit Lagoi Villa (BLV) paling lambat triwulan IV 2026. BLV memakainya untuk belanja modal pembangunan dan pengembangan infrastruktur di kawasan wisata terpadu Lagoi, Bintan. Proyek ini bertahap dan ditargetkan selesai paling lambat triwulan IV 2029. Lalu, Dana Rp390,34 miliar masuk sebagai tambahan modal ke PT Bukit Permai Properti (BKPP) paling lambat triwulan IV 2026. Dana tersebut dipakai membangun infrastruktur proyek Uluwatu Estate, antara lain jalan, art gallery, natural park, fasilitas olahraga, dan fasilitas penunjang terkait. Pembangunan dilakukan bertahap dan ditargetkan selesai paling lambat triwulan IV 2028.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,82% ke 5.974 di Sesi I Rabu (14/10), BRPT, MAPI, WIFI Top Gainers LQ45 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News