KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Investor China berbondong-bondong mengalihkan dana ke aset luar negeri, khususnya reksadana saham AS, setelah regulator menaikkan kuota investasi ke luar negeri. Langkah ini memicu pelepasan permintaan yang selama ini tertahan, di tengah imbal hasil domestik yang berada di titik terendah dan pengetatan aturan oleh Beijing terhadap jalur tidak resmi untuk memindahkan uang ke luar negeri. Meskipun China telah menindak praktik investasi luar negeri yang dianggap ilegal melalui perusahaan sekuritas daring, pemerintah secara bersamaan memperluas akses resmi ke pasar luar negeri.
Baca Juga: Korea Selatan Minta Pemaparan Rencana Investasi AS di Parlemen Ditunda Pada akhir bulan lalu, regulator valuta asing China menaikkan kuota Qualified Domestic Institutional Investor (QDII)—skema investasi institusional domestik yang memenuhi syarat—sebesar US$ 6,8 miliar, sehingga mencapai rekor tertinggi sebesar US$ 183 miliar. Kecepatan manajer investasi dalam membatasi arus masuk dana ke produk yang berfokus pada AS menunjukkan betapa besarnya antusiasme investor untuk mendapatkan eksposur ke pasar saham Wall Street. Batas harian arus masuk untuk sebuah reksadana QDII yang melacak indeks Nasdaq 100 dinaikkan dari 10 yuan menjadi 5.000 yuan pada tanggal 9 September. Namun, hanya sehari berselang, manajer investasinya, Wanjia Asset Management, kembali membatasi arus masuk secara ketat menjadi hanya 100 yuan per hari untuk setiap investor individu. "Hal ini menunjukkan adanya lonjakan arus masuk dana yang sangat besar sehingga manajer investasi perlu membatasi pembelian unit penyertaan," ujar Ivan Shi, kepala riset di perusahaan konsultan dana Z-Ben Advisors. "Minat investor China terhadap saham teknologi AS masih sangat tinggi." Serbuan investasi ke luar negeri ini menyoroti tantangan yang dihadapi Beijing dalam membendung arus keluar modal. Keyakinan terhadap ekonomi domestik masih rapuh; imbal hasil obligasi pemerintah Tiongkok tenor 10 tahun berada lebih dari tiga poin persentase di bawah imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury), dan kinerja pasar saham lokal secara umum tertinggal dibandingkan kenaikan dua digit yang dicatatkan saham-saham AS tahun ini.
Baca Juga: Pengadilan Korsel Perintahkan Korut Bayar Ganti Rugi Penghancuran Kantor Penghubung Investasi portofolio mencatat rekor defisit sebesar US$ 426 miliar pada tahun 2025 menurut data Neraca Pembayaran China, dan arus keluar bersih mencapai US$ 146 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Dalam kasus lain, China Universal Asset Management melonggarkan pembatasan pada ETF Nasdaq 100 miliknya, namun kembali memperketat aturan tersebut dua hari kemudian. TruValue Asset Management melakukan langkah serupa yang berbalik arah terkait dana QDII-nya yang berinvestasi pada saham-saham perusahaan cip global. "Permintaan dari Tiongkok untuk alokasi aset global semakin besar," ujar Xu Jie, manajer investasi di Yuanzi Investment Management, perusahaan yang berinvestasi di pasar global melalui exchange-traded funds (ETF) dalam skema QDII. Investor jangka panjang perlu "melakukan diversifikasi risiko dan turut menikmati pertumbuhan di pasar-pasar global utama."
Baca Juga: Bank of Japan Diprediksi Akan Naikkan Suku Bunga di Tengah Risiko Inflasi Amerika Serikat merupakan tujuan utama bagi dana QDII, yang mencakup hampir separuh dari bisnis bernilai sekitar 1 triliun yuan (US$ 150 miliar) tersebut, menurut data Shanghai Securities.
Sebagian besar ETF yang berorientasi ke pasar AS diperdagangkan dengan premi tinggi di atas nilai aset bersihnya; hal ini mencerminkan antusiasme investor untuk mendapatkan akses terbatas ke pasar luar negeri. Sebuah ETF yang terdaftar di bursa Shenzhen dan melacak Indeks Sektor Teknologi Nasdaq-100 diperdagangkan dengan premi sebesar 24% pada hari Rabu. "Premi tersebut mencerminkan kuatnya permintaan rumah tangga terhadap aset global," kata Zhaopeng Xing, ahli strategi senior untuk Tiongkok di ANZ. Neraca pembayaran China baru-baru ini mencatatkan posisi positif berkat kuatnya arus masuk perdagangan, "namun regulator tetap perlu menjaga keseimbangan untuk mengendalikan arus keluar modal," ujarnya. (US$1 = 6,7131 yuan renminbi Tiongkok)