Belajar dari 2015 dan 2019, Ini Rencana F1 Singapura Hadapi Kabut Asap



KONTAN.CO.ID - F1 Singapura kembali menghadapi ancaman kabut asap pada 2026 akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Situasi ini mengingatkan pada penyelenggaraan Grand Prix pada 2015 dan 2019, ketika kualitas udara di Singapura juga berada dalam kategori tidak sehat.

Mengutip CNA, asap dari kebakaran di Indonesia terbawa angin menuju Singapura menjelang akhir pekan balapan di Sirkuit Marina Bay.


Otoritas setempat pun menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga kesehatan pembalap, kru, dan penonton.

Pengalaman pada 2015 dan 2019 menjadi salah satu acuan bagi penyelenggara untuk menghadapi situasi serupa tahun ini.

Baca Juga: F1 Singapura Sukses Jadi Mesin Ekonomi, Hasilkan Rp39 Triliun dalam 16 Tahun

F1 GP Singapura Dihadang Asap pada 2015 dan 2019

Kabut asap pernah menjadi perhatian dalam penyelenggaraan F1 Singapura pada 2015. Reuters melaporkan, PSI rata-rata 24 jam pada hari balapan mencapai angka tertinggi 139.

Penyelenggara menyiagakan seluruh 24 pos medis dan pertolongan pertama untuk menghadapi kemungkinan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kabut asap.

Masker N95 juga tersedia bagi penonton dengan harga tertentu.

Situasi serupa kembali terjadi pada F1 GP Singapura edisi 2019. PSI rata-rata 24 jam mencapai angka tertinggi 126 pada hari balapan.

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, penyelenggara menyiagakan pos pertolongan pertama dan menyediakan masker N95 bagi penonton yang membutuhkannya.

Meski menghadapi kondisi udara yang tidak sehat, Grand Prix Singapura 2019 tetap menarik 268.000 penonton.

Jumlah tersebut menjadi angka kehadiran tertinggi kedua dalam sejarah acara itu pada saat tersebut.

Baca Juga: F1 Kembali ke Sepang Setelah 9 Tahun, Ekonomi Malaysia Ikut Ketiban Untung

Rencana Antisipasi F1 Singapura 2026

Untuk penyelenggaraan tahun ini, Singapore Tourism Board (STB) menyatakan rencana kontingensi telah disiapkan berdasarkan berbagai tingkat PSI rata-rata 24 jam dan konsentrasi PM2.5 selama satu jam.

Langkah yang disiapkan mencakup penyampaian informasi terbaru tentang kabut asap kepada pengunjung di Sirkuit Marina Bay. Bantuan medis dan masker N95 juga akan tersedia jika diperlukan.

STB bekerja sama dengan lembaga pemerintah terkait dan promotor Singapore GP untuk memantau perkembangan kualitas udara.

Jika kabut asap menimbulkan masalah visibilitas, kesehatan masyarakat, atau operasional, mereka akan mengevaluasi situasi sebelum menentukan keputusan bersama.

Federasi olahraga otomotif dunia atau Federation Internationale de l'Automobile (FIA), menyatakan balapan utama belum diperkirakan terdampak oleh kondisi kabut asap.

Namun, pembatasan aktivitas luar ruangan, termasuk hiburan, dapat dipertimbangkan apabila kualitas udara memburuk.

Baca Juga: F1 Perpanjang Kontrak GP Las Vegas: Keuntungan Besar Menanti Hingga 2037!