KONTAN.CO.ID - Dengan garis pantai yang sangat luas, Filipina terkenal dengan kekuatan gelombang dan pasang surut laut yang tak pernah berhenti. Ilmuwan memprediksi, pemanfaatan seperlima dari kekuatan ini saja sudah setara dengan total kapasitas energi nasional Filipina saat ini. "Menurut berbagai studi independen, perairan pesisir Filipina memiliki total potensi daya teoretis hingga 170 gigawatt, dibandingkan dengan kapasitas terpasang negara saat ini yang mencapai 32 gigawatt,” kata Justin Kyle Ricafort dari Departemen Teknik Elektronika, Komputer dan Komunikasi Universitas Ateneo de Manila. “Meskipun tidak seluruh kekuatan laut tersebut secara praktis dapat dimanfaatkan, dengan memanfaatkan bahkan hanya 18 hingga 20 persen dari total energi pasang surut kepulauan ini secara teoretis sudah cukup untuk memenuhi konsumsi listrik Filipina saat ini,” tambahnya.
Tarikan gravitasi Untuk mewujudkan hal tersebut, Ricafort dan rekannya, King Harold Recto, sedang mempertimbangkan penggunaan sistem energi arus pasang surut bawah laut, generator mekanis yang bisa secara langsung mengubah pergerakan pasang surut laut menjadi listrik. Mereka mengidentifikasi Selat San Bernardino, Selat San Juanico dan Selat Cebu sebagai beberapa lokasi yang paling layak untuk membangun sistem energi arus pasang surut berdasarkan kecepatan arus air, kedekatan dengan pusat-pusat populasi serta akses ke jaringan listrik.
Baca Juga: Trump Minta Apple Ubah Nama Lake Ontario Jadi Lake America Di dekat Pulau Capul, Samar Utara, sebuah sistem arus pasang surut berkapasitas satu megawatt sedang dipasang untuk menggantikan generator bertenaga diesel yang memasok listrik bagi masyarakat di wilayah terpencil tersebut. Para peneliti mengatakan, sistem ini dapat menjadi model untuk memperluas penggunaan energi terbarukan laut di seluruh negeri. Sistem turbin pasang surut dua arah yang dikembangkan oleh perusahaan Belanda Tocardo memanfaatkan tarikan gravitasi pasang surut dan gelombang untuk menghasilkan energi terbarukan yang bersih dan terukur. Beberapa perangkat tengah dipasang di dekat Pulau Capul di Selat San Bernardino untuk menggantikan generator diesel yang saat ini memasok listrik bagi kota kecil di pulau tersebut. Selama beberapa dekade, Filipina sangat bergantung pada bahan bakar impor yang mahal seperti batu bara dan gas alam sehingga jaringan energi nasional bergantung pada perubahan pasar global dan lonjakan harga. Gangguan pasokan energi global dan ketegangan geopolitik berulang kali menunjukkan betapa rapuhnya ketergantungan tersebut dan akhirnya sering mendorong harga listrik menjadi lebih tinggi bagi masyarakat Filipina. Ricafort dan Recto berpendapat bahwa energi pasang surut di laut menawarkan opsi yang berbeda, yaitu jalur yang berasal dari sumber daya yang sudah dan akan terus tersedia dari perairan Filipina. Garis pantainya yang luas dan arus lautnya yang kuat dapat menempatkan negara tersebut sebagai calon pemimpin dalam pengembangan energi laut di Asia Tenggara, bahkan di tingkat global. Namun, selain menghasilkan listrik, para peneliti menyadari bahwa energi pasang surut menjadi peluang strategis untuk mengatasi energy trilemma, yang menjadi tantangan untuk menyeimbangkan keberlanjutan, pemerataan energi dan ketahanan energi. Meskipun teknologinya saat ini masih lebih mahal dibandingkan dengan sistem tenaga surya dan angin, penelitian itu menunjukkan bahwa investasi jangka panjang dan penerapan dalam skala yang lebih besar pada akhirnya dapat membuatnya lebih murah serta memperluas akses terhadap listrik yang bisa diandalkan, khususnya di wilayah pesisir yang selama ini kurang terlayani. Memperluas akses
Temuan para peneliti Universitas Ateneo de Manila ini menjadi dasar bagi investasi masa depan terkait infrastruktur energi laut dan Filipina dinilai berada dalam posisi strategis dalam pemanfaatan sumber daya alam yang paling terabaikan. Di Filipina, laut selalu lebih dari sekadar bentang geografis. Laut menjadi sumber pangan, penopang mata pencaharian, penghubung antar-pulau serta bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir. Selama beberapa generasi, masyarakat Filipina telah hidup berdampingan dengan air yang terus bergerak.
Baca Juga: Ringgit Melemah, Bagaimana Pergerakan Rupiah dan Mata Uang Asia? Ricafort dan Recto meyakini bahwa laut lebih dari sekadar sumber mata pencaharian. Di tengah ketidakpastian energi yang semakin besar, jawaban bagi masa depan energi Filipina mungkin sedang bergerak di sepanjang garis pantainya. Ricafort dan Recto pertama kali mempresentasikan penelitian mereka, “Assessing Tidal Energy Potential in the Visayas: Viability of the San Bernardino, San Juanico, and Cebu Straits,” pada konferensi IEEE Reg
Artikel ini ditulis oleh Danika Geronimo, pertama kali dimuat di Philippine Daily Inquirer dan ditayangkan kembali melalui inisiatif kolaborasi konten dari Asia ESG Positive Impact Consortium (A-EPIC), yang mencakup Star Media Group, Kompas Gramedia Media Group dari Indonesia dan Inquirer Group of Companies dari Filipina.