KONTAN.CO.ID - Tesla menghadapi ujian penting saat mengumumkan laporan keuangan kuartal II 2026 pada Rabu (23/7) waktu Amerika Serikat. Kali ini, perhatian investor diprediksi akan mengarah pada seberapa besar hasil yang mulai ditunjukkan dari investasi besar Tesla di bidang kecerdasan buatan (AI). Perlu dipahami, selama beberapa tahun terakhir, CEO Elon Musk mengubah arah bisnis Tesla dari produsen mobil listrik menjadi perusahaan yang mengembangkan physical AI.
Belanja AI Diperkirakan Tembus Rp447,75 Triliun
Sepanjang 2026, Tesla diperkirakan menggelontorkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$25 miliar, atau setara Rp447,75 triliun dengan kurs Rp17.910 per dolar AS. Reuters melaporkan, dana tersebut digunakan untuk membangun infrastruktur AI, termasuk pusat data, memperluas kapasitas produksi, serta mempercepat pengembangan robotaxi dan robot humanoid Optimus. Besarnya investasi itu diperkirakan telah melampaui kas yang dihasilkan Tesla dari bisnis utamanya, yakni penjualan mobil listrik dan produk energi. Akibatnya, perusahaan diproyeksikan mencatat free cash flow negatif untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun. Morgan Stanley menilai perubahan tersebut membuat fokus investor bergeser. Jika sebelumnya pasar lebih banyak mencermati pertumbuhan penjualan kendaraan, kini perhatian beralih pada efektivitas investasi AI Tesla. "Ketika belanja modal meningkat lebih dari dua kali lipat dan arus kas bebas berubah menjadi negatif, investor semakin mencari bukti bahwa pengeluaran Tesla benar-benar memperkuat keunggulan perusahaan di bidang physical AI," tulis analis Morgan Stanley. Baca Juga: Menlu ASEAN Bertemu, Suarakan Keprihatinan Atas Konflik di Timur TengahMargin Diperkirakan Turun, Arus Kas Berbalik Negatif
Selain belanja AI, investor juga akan mencermati profitabilitas Tesla. Analis memperkirakan margin laba kotor otomotif Tesla, di luar kredit regulasi, turun menjadi 18,1% pada kuartal II 2026, dibandingkan 19,2% pada kuartal sebelumnya. Di sisi lain, konsensus analis yang dihimpun LSEG memperkirakan Tesla akan membukukan free cash flow negatif sebesar US$3,3 miliar, atau sekitar Rp59,10 triliun. Sementara itu, laba per saham (EPS) diproyeksikan naik menjadi US$0,50, dari US$0,40 pada periode yang sama tahun lalu.Proyeksi Kinerja Tesla Kuartal II 2026
| Indikator | Estimasi |
|---|---|
| Belanja modal (Capex) | US$25 miliar (Rp447,75 triliun) |
| Free cash flow | -US$3,3 miliar (Rp59,10 triliun) |
| Laba per saham (EPS) | US$0,50 |
| Margin laba otomotif | 18,1% |
| Proyeksi pengiriman kendaraan 2026 | 1,7 juta unit |