Belanja Barang Mewah di AS Turun 6%, Industri Luxury Makin Tertekan



KONTAN.CO.ID - Belanja konsumen Amerika Serikat (AS) untuk produk mewah kembali melemah pada September 2026.

Data transaksi kartu kredit menunjukkan belanja barang mewah turun untuk bulan ketiga berturut-turut, menambah tekanan bagi industri luxury yang tengah berupaya keluar dari periode penurunan berkepanjangan.

Mengutip Reuters, Selasa (6/10/2026), pemberi pinjaman ritel Citi mencatat transaksi kartu kredit untuk produk-produk mewah di AS turun 6% secara tahunan pada September. Penurunan tersebut lebih dalam dibandingkan kontraksi 4% pada Juli dan Agustus.


Baca Juga: Yield Obligasi Jepang Turun Rabu (7/10), Anggota BOJ Dukung Kenaikan Suku Bunga

Data Citi didasarkan pada jutaan transaksi kartu kredit dan menjadi sinyal bahwa pasar barang mewah terbesar dunia mulai kehilangan momentum, menjelang pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections AS pada 3 November 2026.

Pelemahan ekonomi China serta dampak ekonomi dari perang Iran sebelumnya telah menekan penjualan sejumlah merek luxury.

Kondisi tersebut membuat perusahaan-perusahaan barang mewah semakin mengandalkan konsumen kaya di AS, termasuk kelompok jutawan baru dari industri kecerdasan buatan (AI), untuk menopang penjualan global.

Namun, kekuatan belanja konsumen berpenghasilan tinggi belum cukup untuk mengimbangi pelemahan secara keseluruhan.

Baca Juga: Bukan Suntik Mati, Trump Pilih Regu Tembak untuk Eksekusi Pelaku Fort Hood

Citi mencatat pertumbuhan kekayaan konsumen kelas atas masih menopang segmen paling premium pada September.

"Perusahaan dengan eksposur lebih besar terhadap konsumen kelas atas seharusnya tetap relatif tangguh, didukung efek kekayaan dari pasar saham," tulis analis Citi dalam risetnya.

Citi menyebut Tapestry, pemilik merek Coach dan Kate Spade, konglomerasi Prancis LVMH yang menaungi Louis Vuitton dan Tiffany, serta Ferragamo dari Italia sebagai sejumlah perusahaan luxury yang memiliki eksposur besar terhadap pasar AS.

Dari sisi kategori produk, belanja barang berbahan kulit dan pakaian jadi membaik dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, belanja jam tangan dan perhiasan mewah justru semakin memburuk.

Sebagian besar merek soft luxury yang menjual pakaian, sepatu dan produk kulit telah menaikkan harga sekitar beberapa persen sepanjang tahun ini.

Kenaikan tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan kenaikan harga sekitar rendah hingga menengah satu digit yang diterapkan produsen jam tangan dan perhiasan.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Melemah Rabu (7/10), Investor Wait and See Jelang Kinerja Samsung

Ekonomi AS Jadi Perhatian

Data Citi muncul bersamaan dengan sejumlah survei yang menunjukkan meningkatnya kekhawatiran konsumen terhadap kondisi ekonomi AS menjelang pemilu paruh waktu. Survei Conference Board dan University of Michigan sama-sama menunjukkan konsumen semakin berhati-hati.

Menjelang pemilu, ketidakpastian politik kerap membuat konsumen dan pelaku usaha menunda keputusan belanja maupun investasi. Di sisi lain, kenaikan imbal hasil US Treasury dan suku bunga hipotek berpotensi semakin menekan aktivitas ekonomi.

Morgan Stanley dalam risetnya pada September menilai pelemahan belanja luxury di AS membuat ruang bagi perusahaan barang mewah untuk kembali mencatat pertumbuhan menjadi semakin terbatas. Industri tersebut sebelumnya telah mengalami kontraksi selama dua tahun berturut-turut.

Baca Juga: Houthi Lancarkan 2 Rudal ke Bandara Aden, Konflik Yaman Memanas

Morgan Stanley memperkirakan sejumlah grup luxury akan melaporkan pelemahan permintaan dari AS dalam musim laporan keuangan mendatang.

Musim laporan tersebut akan dimulai pada 12 Oktober ketika LVMH, yang kerap menjadi indikator bagi kondisi industri luxury secara keseluruhan, melaporkan penjualan kuartal ketiga.

Sementara itu, Kering, pemilik merek Gucci, juga telah mengingatkan analis mengenai potensi perlambatan pasar AS. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan analis pada pekan lalu, menurut Equita, perusahaan pialang asal Italia.