Belanja Konsumen AS Kian Lesu



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Daya beli konsumen Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Di tengah tekanan inflasi yang tak kunjung reda, belanja masyarakat pada Februari hanya tumbuh tipis, mencerminkan kehati-hatian yang kian menguat.

Data Biro Analisis Ekonomi (BEA) menunjukkan belanja konsumen riil hanya naik 0,1% pada Februari, setelah stagnan di Januari. Angka ini memperpanjang tren permintaan yang lesu, sekaligus menegaskan bahwa konsumsi sebagai motor utama ekonomi AS mulai kehilangan tenaga.

Tekanan inflasi pun belum mereda. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (core PCE), indikator favorit bank sentral AS, naik 0,4% secara bulanan dan 3% secara tahunan. Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa upaya meredam inflasi masih jauh dari selesai, bahkan berpotensi memburuk seiring dampak perang di Iran terhadap harga energi.


Secara rinci, kenaikan belanja ditopang oleh pembelian barang, khususnya kendaraan bermotor yang pulih setelah sempat tertekan. Namun, pengeluaran jasa hanya naik tipis, menandakan aktivitas konsumsi belum sepenuhnya pulih.

Yang lebih mengkhawatirkan, pendapatan riil yang dapat dibelanjakan justru turun 0,5% penurunan terdalam dalam hampir setahun. Kondisi ini mempersempit ruang belanja masyarakat dan memperbesar risiko perlambatan ekonomi ke depan.

Tekanan tambahan datang dari lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik. Meski sempat mereda setelah gencatan senjata sementara antara AS dan Iran, harga minyak Brent masih sekitar US$ 25 per barel lebih tinggi dibandingkan sebelum perang. Kenaikan biaya ini mulai diteruskan ke konsumen oleh pelaku usaha.

“Ketika rumah tangga menghadapi atau mengantisipasi tekanan finansial, mereka cenderung menahan belanja sebagai bentuk perlindungan diri. Ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi,” ujar ekonom senior NerdWallet, Elizabeth Renter.

Baca Juga: Inflasi AS Melonjak 3,3% di Maret, Harapan Pemangkasan Suku Bunga The Fed Menipis

Sejumlah korporasi pun mulai menyesuaikan strategi. Maskapai Delta Air Lines membuka peluang kenaikan tarif lanjutan, sementara layanan pos AS berencana menaikkan harga hingga 8% untuk beberapa layanan. Ini mempertegas bahwa tekanan biaya masih akan berlanjut di tingkat konsumen.

Di sisi lain, data inflasi yang lebih mutakhir berpotensi menunjukkan tekanan yang lebih besar. Ekonom memperkirakan indeks harga konsumen (CPI) Maret melonjak 0,9% secara bulanan, kenaikan tertinggi sejak 2022, didorong lonjakan harga bensin.

Meski demikian, ada sedikit sinyal peredaan dari sisi inflasi jasa inti yang hanya naik 0,2% terendah sejak September. Namun, perlambatan ini belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari sektor barang, terutama energi dan kebutuhan terkait gaya hidup.

Dari sisi pendapatan, gambaran juga belum sepenuhnya menggembirakan. Pendapatan pribadi tercatat menurun, dipicu turunnya pendapatan dividen dan transfer pemerintah. Sementara itu, kenaikan upah hanya 0,2% dan tingkat tabungan turun menjadi 4%, menunjukkan bantalan keuangan rumah tangga semakin menipis.

Secara makro, ekonomi AS juga tumbuh lebih lambat dari perkiraan. Produk domestik bruto (PDB) riil hanya meningkat 0,5% secara tahunan pada kuartal IV-2025.

Kombinasi daya beli yang melemah, inflasi yang membandel, dan tekanan geopolitik menempatkan ekonomi AS pada persimpangan yang rapuh. Jika tren ini berlanjut, konsumsi yang selama ini menjadi penopang utama berisiko berubah menjadi titik lemah baru bagi pertumbuhan global.

Baca Juga: The Fed Waspada! Shock Harga Minyak Bikin Inflasi Susah Turun

TAG: