Belanja Masyarakat Melandai, Investor Perlu Cermati Dampaknya ke Emiten Konsumer



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju pertumbuhan belanja masyarakat mulai menunjukkan perlambatan pada kuartal II-2026. Kondisi tersebut diproyeksi akan memberikan tekanan terhadap kinerja sejumlah emiten di sektor konsumer yang bergantung pada daya beli masyarakat.

Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), rata-rata pertumbuhan belanja tercatat sebesar 6,1% secara tahunan (year on year/YoY) pada periode kuartal II-2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 6,4% YoY yang dibukukan pada kuartal I-2026.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (Ipot) Brigita Kinari mengatakan Kondisi pelemahan konsumsi berpotensi membuat pertumbuhan penjualan emiten konsumer tidak sekuat awal tahun, terutama pada produk discretionary. 


Baca Juga: Prospek Emiten Rokok Semester II-2026 Selektif, Ini Rekomendasi Saham Pilihan

Namun, dampaknya terhadap consumer staples relatif terbatas karena konsumsi kebutuhan harian masih resilien, tercermin dari pertumbuhan supermarket, restoran, dan consumer goods yang tetap positif. 

"Dengan demikian, kami memperkirakan kinerja sektor konsumer masih bertumbuh hingga akhir tahun, meski dengan laju yang lebih moderat dibandingkan semester pertama," kata Brigita kepada Kontan, Selasa (7/7/2026)

Prospek Emiten Konsumer hingga Akhir Tahun 2026

Brigita melihat peluang perbaikan kinerja emiten konsumer semakin terbuka pada semester II, terutama memasuki kuartal IV. Dari sisi permintaan, momentum back to school, libur akhir tahun, serta potensi penurunan harga BBM nonsubsidi dapat mendukung pemulihan daya beli masyarakat.

Dari sisi profitabilitas, koreksi harga minyak Brent diperkirakan mulai menekan biaya bahan baku dan kemasan sehingga mendorong ekspansi margin setelah efek inventory sekitar tiga bulan. Meski demikian, risiko yang perlu dicermati tetap berasal dari daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, volatilitas rupiah, serta potensi rebound harga minyak dunia.

Di kelompok consumer staples, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dianggap menarik. KLBF memiliki eksposur terbesar terhadap biaya bahan aktif farmasi Active Pharmaceutical Ingredients (API) dan bahan kemasan, sehingga berpotensi menjadi penerima manfaat utama dari penurunan harga minyak melalui ekspansi margin. Selain itu, portofolio bisnis farmasi, nutrisi, dan consumer health yang defensif membuat pertumbuhan laba relatif lebih resilient

Baca Juga: IHSG Menguat 1,19% ke 5.986 pada Selasa (7/7/2026), SMGR, BBNI, BRPT Top Gainers LQ45

MYOR juga tetap menarik berkat pertumbuhan penjualan yang solid, didukung jaringan distribusi yang kuat serta peluang peningkatan profitabilitas seiring turunnya biaya bahan baku. 

Sementara dari sektor ritel, AMRT masih prospektif karena berpotensi menangkap pemulihan konsumsi kebutuhan harian, didukung jaringan gerai yang luas dan dominasi penjualan produk kebutuhan pokok yang cenderung lebih defensif dibandingkan produk discretionary.

Brigita merekomendasikan buy untuk saham KLBF, MYOR dan AMRT di target harga masing-masing Rp 1.200, Rp 2.700 dan Rp 2.600 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News