Belanja Modal Perusahaan Jepang Nyaris Mandek pada Kuartal I 2026, Apa Penyebabnya?



KONTAN.CO.ID - Belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan Jepang nyaris tidak tumbuh pada kuartal pertama 2026.

Kondisi ini menandai jeda setelah setahun terakhir mencatat pertumbuhan yang kuat, di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia usaha terhadap dampak konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 2% Senin (1/6) Pagi: Brent ke US$ 93,28 & WTI ke US$ 89,73


Melansir Reuters data yang dirilis Kementerian Keuangan Jepang pada Senin (1/6/2026) menunjukkan belanja modal perusahaan naik tipis 0,047% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal I-2026.

Angka tersebut jauh melambat dibandingkan pertumbuhan 6,5% pada kuartal sebelumnya.

Secara kuartalan dan setelah disesuaikan secara musiman, belanja modal bahkan turun 2%.

Data ini menjadi perhatian pasar karena akan digunakan dalam perhitungan revisi produk domestik bruto (PDB) Jepang yang dijadwalkan dirilis pada 8 Juni mendatang.

Sejumlah analis menilai lonjakan harga energi dan potensi gangguan rantai pasok akibat perang Iran berisiko semakin menekan minat investasi perusahaan pada kuartal-kuartal berikutnya.

Baca Juga: Dolar Stabil Senin (1/6), Menanti Kepastian Konflik Iran dan Arah Suku Bunga The Fed

Momentum Investasi Melambat

Seorang pejabat pemerintah Jepang mengatakan perlambatan tersebut terjadi setelah sebelumnya investasi di sektor-sektor terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tumbuh sangat kuat dalam beberapa kuartal terakhir.

Meski belanja modal melambat, kinerja korporasi Jepang masih menunjukkan ketahanan.

Data yang sama memperlihatkan penjualan perusahaan meningkat 1,1% secara tahunan pada kuartal pertama, sementara laba berulang (recurring profit) melonjak 14,6%.

Belanja modal merupakan salah satu indikator utama untuk mengukur kekuatan permintaan domestik dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat Ditopang Euforia AI Senin (1/6), Risiko AS-Iran Masih Membayangi

Ekonomi Jepang Masih Tumbuh

Sebelumnya, data awal menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh 2,1% secara tahunan pada kuartal I-2026, lebih tinggi dari perkiraan pasar. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekspor yang kuat serta konsumsi domestik yang tetap solid.

Namun, para ekonom memperingatkan bahwa momentum tersebut akan menghadapi ujian berat pada kuartal kedua seiring meningkatnya tekanan akibat kenaikan biaya energi dan ketidakpastian geopolitik global.

Baca Juga: Investasi AI China Terancam: AS Perketat Akses Pembelian Chip, Ini Detailnya!

Jepang Dorong Investasi Korporasi

Dalam beberapa tahun terakhir, investasi perusahaan di Jepang relatif kuat, didorong kebutuhan dunia usaha untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja akibat penuaan populasi yang semakin cepat.

Selain itu, keluarnya Jepang dari periode deflasi berkepanjangan juga mulai mengubah perilaku korporasi.

Banyak perusahaan yang sebelumnya menumpuk kas kini mulai mengalokasikan dana tersebut untuk ekspansi bisnis dan investasi baru.

Pemerintahan Sanae Takaichi berupaya mempercepat tren tersebut melalui berbagai insentif, termasuk pemberian kredit pajak untuk investasi modal dan peningkatan belanja publik di sektor-sektor strategis seperti semikonduktor dan galangan kapal.

Baca Juga: Tantang Dominasi MacBook Neo, Dell Luncurkan Laptop XPS 13 Seharga US$ 699

Pemerintah Jepang juga tengah merevisi pedoman tata kelola perusahaan dengan mendorong korporasi mengevaluasi penggunaan cadangan kas agar lebih produktif untuk investasi dan pertumbuhan, dibandingkan hanya mengendap di neraca perusahaan.

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Japan menargetkan nilai investasi modal perusahaan mencapai 200 triliun yen per tahun pada 2040, atau sekitar dua kali lipat dibandingkan level saat ini.