Belanja modal PGAS US$ 250 juta di 2014



JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menyiapkan belanja modal alias capital expenditure (capex) US$ 200 juta-US$ 250 juta pada 2014. Perseroan ini akan menggunakan dana itu untuk mengembangkan pipa gas dan menyelesaikan proyek lanjutan tahun ini.

Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko PGAS Wahid Sutopo mengatakan, PGAS masih akan membangun jaringan distribusi di beberapa daerah. PGAS akan mendanai capex itu dari kas internal. Maklum, posisi kas PGAS saat ini mencapai US$ 903,84 juta.

Wahid menjelaskan, saat ini PGAS tengah menyelesaikan pembangunan pipa 24 inci sepanjang 30 kilometer (km). Perkembangan proyek ini kini sudah mencapai 90%. PGAS berharap, jaringan pipa ini mulai beroperasi tahun depan. Segmen ini merupakan kelanjutan dari segmen Bojonegara-Cikande yang merupakan bagian dari pipa South Sumatera-West Jawa (SSWJ).


PGAS juga bakal menyelesaikan pembangunan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) di Lampung guna memenuhi kebutuhan sektor industri. Pembangunan FSRU ditargetkan selesai tahun depan dan akan mulai beroperasi di 2015. Lampung akan mendapat alokasi gas sebanyak 18 kargo yang bakal dimulai 2016.

PGAS juga mengalokasikan Rp 450 miliar untuk bisnis distribusi gas sebagai bagian dari belanja modal tahun depan. Dana itu digunakan untuk membangun 20 stasiun penyedia bahan bakar gas (SPBG) di Semarang. Tahun ini, PGAS menganggarkan capex US$ 300 juta. Namun, karena proyek infrastruktur gas di Semarang batal, PGAS memangkas separuh capex.

PGAS juga masih berminat menambah blok migas lagi. Saat ini, anak usaha PGAS PT Saka Energi tengah dalam proses negosiasi untuk mengambil dua blok migas milik Hess Corporation. Dua blok itu berlokasi di Ujung Pangkah dan Natuna Sea Blok A.

Kepala Hubungan Investor PGAS Nusky Suyono mengatakan, PGAS mengincar 75% hak partisipasi Hess di Blok Pangkah. Tender itu bakal kelar pada kuartal I tahun depan. "Kami sudah menyiapkan pendanaan baik dari internal maupun kemungkinan mencari pendanaan eksternal jika masih kurang," ujar dia, Rabu (27/11).

PGAS juga harus menerima kebijakan open access. Bagi PGAS, kebijakan ini akan menghilangkan keistimewaannya dalam monopoli distribusi dan transmisi gas.

Sayang, Nusky belum bisa menyebutkan dampak aturan ini terhadap kinerja PGAS ke depan. Yang jelas, PGAS menyatakan siap mengakuisisi aset lain. Misalnya saja akuisisi terhadap anak usaha PT Pertamina, PT Pertagas.

Menurut Wahid, opsi itu bisa diambil bila pemegang saham sepakat rencana pengambilalihan Pertagas. "Sebab dengan mengakuisisi Pertagas, jaringan PGAS akan lebih luas," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana