Belanja Modal Tesla Naik Lebih dari Dua Kali Lipat, Fokus ke Robot dan Mobil Otonom



KONTAN.CO.ID - LOS ANGELES. Tesla berencana meningkatkan belanja modalnya lebih dari dua kali lipat. Ini rekor tertinggi belanja modal Tesla melampaui US$ 20 miliar pada tahun ini. Namun, sebagian besar investasi tersebut tidak lagi diarahkan ke bisnis tradisional mobil listrik yang dikemudikan manusia.

Produsen mobil listrik yang tahun lalu kehilangan posisi teratas penjualan global EV dari rival asal China, BYD, kini mengalihkan fokus investasi ke lini bisnis yang masih belum terbukti, seperti kendaraan sepenuhnya otonom dan robot humanoid. Hal ini terungkap dari pernyataan para eksekutif Tesla dalam paparan kinerja keuangan pada Rabu.

Menegaskan pergeseran strategi tersebut, CEO Elon Musk mengatakan Tesla akan menghentikan produksi SUV Model X dan sedan Model S. Ruang produksi di pabrik California akan dialihkan untuk pembuatan robot humanoid Optimus.


Baca Juga: Defisit Perdagangan AS Melebar November 2025, Catat Kenaikan Hampir dalam 34 Tahun

Dalam unggahan terpisah di media sosial X, Musk menyebut robot Optimus juga akan diproduksi dalam skala lebih besar di Gigafactory Texas. “Ini akan menjadi tahun dengan belanja modal yang sangat besar,” tulis Musk. “Kami melakukan investasi besar untuk masa depan yang epik.”

Chief Financial Officer Tesla, Vaibhav Taneja, mengatakan sebagian besar belanja modal akan digunakan untuk membangun lini produksi Cybercab—kendaraan otonom tanpa setir dan pedal—truk Tesla Semi yang telah lama dijanjikan, robot Optimus, serta fasilitas produksi baterai dan pemurnian litium.

Meski masih sangat bergantung pada penjualan mobil listrik konvensional, valuasi Tesla jauh melampaui produsen otomotif lainnya dan lebih sebanding dengan perusahaan teknologi besar. Nilai tersebut bertumpu pada keyakinan investor bahwa Musk mampu merealisasikan ambisi robotaksi dan robot humanoid, yang didukung oleh investasi besar Tesla di bidang kecerdasan buatan (AI).

Dengan langkah ini, Tesla bergabung dengan Meta Platforms, Microsoft, dan Alphabet yang juga berencana menaikkan belanja modal secara signifikan tahun ini untuk membiayai perangkat keras dan pusat data pendukung AI.

Chief Operating Officer REX Financial, Scott Acheychek, menilai bisnis mobil Tesla kini bukan lagi fokus utama. “Cerita besarnya adalah transisi model bisnis yang sedang berlangsung,” ujarnya, seraya menekankan pergeseran Tesla ke teknologi kendaraan otonom.

Baca Juga: Laba H&M di Atas Ekspektasi, Waspadai Perlambatan Penjualan Musim Dingin

Saham Tesla turun sekitar 1% pada perdagangan awal Kamis.

Analis Zacks Investment Research, Andrew Rocco, menyebut belanja lebih dari US$20 miliar ini sebagai “pengeluaran yang diperlukan”.

“Jika Optimus ingin menjadi produk terlaris, maka sistem AI-nya harus dilatih seoptimal mungkin,” ujarnya. Rocco menambahkan, rencana belanja besar ini memberinya keyakinan bahwa target waktu Musk yang kerap dinilai longgar dapat benar-benar dipenuhi.

Nilai belanja modal tahun ini jauh melampaui US$ 8,5 miliar pada tahun lalu dan melampaui rekor sebelumnya sebesar US$ 11,3 miliar pada 2024.

Taneja menyebut Tesla memiliki lebih dari US$ 44 miliar dalam bentuk kas dan investasi untuk mendanai ekspansi tersebut. Ia juga mengisyaratkan peningkatan belanja belum tentu berhenti tahun ini, dengan opsi pendanaan tambahan melalui utang atau cara lain.

Musk sendiri mengatakan sebagian proyek investasi ini dilakukan bukan karena ambisi semata, melainkan karena kebutuhan mendesak.

“Bukan untuk bersenang-senang, tapi karena terpaksa. Sangat sulit membangun semua ini,” ujar Musk, merujuk pada investasi di pemurnian katoda dan litium. 

Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Turun Tipis, Pasar Tenaga Kerja Masih Tahan Banting

Selanjutnya: Defisit Perdagangan AS Melebar November 2025, Catat Kenaikan Hampir dalam 34 Tahun

Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026, 12 Wakil Indonesia Melaju ke Perempatfinal