Belanja Subsidi Pemerintah Berpotensi Melonjak Imbas Perang AS,Israel - Iran



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Belanja subsidi pemerintah berpotensi melonjak imbas perang Amerika Serikat (AS), Israel dengan Iran. 

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet mengatakan bahwa konflik yang masih memanas ini berpotensi menaikan harga minyak dunia. Hal ini merugikan bagi Indonesia mengingat pasokan minyak dalam negeri masih dipenuhi oleh impor. 

"Jika harga minyak kembali melonjak dampaknya terhadap subsidi energi akan signifikan," kata Yusuf pada Kontan.co.id, Selasa (3/3/2026). 


Yusuf bilang setiap kenaikan harga minyak secara langsung meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi, karena pemerintah harus menjaga stabilitas harga energi domestik. 

Baca Juga: Pemerintah Waspadai Dampak Perang Iran vs Israel-AS terhadap Ekonomi RI

"Dalam kondisi ini, belanja subsidi energi berpotensi meningkat tajam dan memperlebar defisit APBN," lanjut Yusuf. 

Oleh karena itu, pemerintah perlu mengantisipasi melalui beberapa langkah, seperti menyiapkan realokasi anggaran, menjaga stok energi nasional tetap aman, serta memastikan kebijakan subsidi tetap tepat sasaran agar beban fiskal tidak meningkat secara tidak terkendali. 

Selain itu, peningkatan koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter juga menjadi penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan pasar. 

Sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyebut stok bahan bakar minyak (BBM) nasional masih cukup untuk 20 hari kedepan. 

Bahlil memastikan kecukupan seluruh kebutuhan minyak dalam negeri di tengah konflik Amerika Serikat Israel dengan Iran. 

Baca Juga: Bahlil Merapat ke Istana Efek Penutupan Selat Hormuz, BBM Cukup 20 Hari ke Depan

"Kalau cadangan BBM saat ini masih 20 hari," ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Senin (2/3/2026). 

Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan bahwa pihaknya terus melapor perkembangan situasi konflik di Timur Tengah kepada Presiden Prabowo Subianto, termasuk terkait penutupan Selat Hormuz dan dampaknya kepada pasokan minyak global. 

Hal itu diperlukan agar pemerintah bisa menetapkan kebijakan yang tepat, mengingat pasokan minyak dalam negeri masih bergantung pada impor. 

Bahlil menilai minyak dunia berpotensi mengalami fluktuasi harga jika kondisi konflik di Timur Tengah terus memanas. Walau begitu, dirinya memastikan kondisi ini belum berdampak langsung kepada kenaikan beban subsidi pemerintah.

Baca Juga: Bahlil Pastikan Pasokan BBM Masih Cukup Untuk 20 Hari Kedepan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News