KONTAN.CO.ID - Langkah tim nasional Inggris menuju final Piala Dunia kembali terhenti. Juara bertahan Argentina membalikkan keadaan dan menang 2-1 pada laga semifinal, Rabu (15/7/2026), melalui dua gol yang tercipta pada menit-menit akhir pertandingan. Kekalahan tersebut mengakhiri harapan Inggris untuk tampil di final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak menjuarai turnamen itu pada 1966.
Baca Juga: Penjualan Ritel AS Naik Tipis pada Juni 2026 Usai peluit panjang berbunyi, para pemain Inggris tampak terpukul. Sejumlah pemain terjatuh di lapangan, sementara para pendukung yang memenuhi stadion hanya bisa terdiam menyaksikan timnya kembali gagal melangkah ke partai puncak. Inggris sebenarnya sempat berada di atas angin setelah Anthony Gordon membawa tim asuhan Thomas Tuchel unggul lebih dulu. Namun, Argentina mampu bangkit dan mencetak dua gol di penghujung laga untuk memastikan kemenangan sekaligus tiket ke final. Selanjutnya, Inggris akan menghadapi Prancis dalam pertandingan perebutan tempat ketiga yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu di Miami.
Baca Juga: Iran Minta Houthi Siap Tutup Jalur Laut Merah Jika AS Serang Infrastruktur Listrik Kekalahan ini memunculkan kritik terhadap pelatih Thomas Tuchel. Mantan kapten Inggris Wayne Rooney menilai, strategi tim berubah terlalu pasif setelah unggul sehingga memberi kesempatan bagi Argentina untuk mengambil alih permainan. "Kami runtuh. Semua bermula dari keputusan pelatih. Tim bermain terlalu pasif," ujar Rooney kepada BBC. "Melawan tim sekelas juara dunia seperti Argentina, pendekatan seperti itu tidak akan berhasil. Ini adalah ujian terbesar dan kami gagal melewatinya," lanjutnya. Meski demikian, Tuchel menegaskan dirinya tetap berkomitmen menangani Inggris. Pelatih asal Jerman itu mengingatkan bahwa turnamen belum sepenuhnya berakhir karena timnya masih akan menjalani laga perebutan posisi ketiga. "Masih ada satu pertandingan lagi yang harus dimainkan, meskipun bukan laga yang kami harapkan," kata Tuchel. "Setelah itu kami akan melangkah ke depan. Saya masih terikat kontrak hingga Euro 2028 yang akan digelar di kandang sendiri. Meski sangat kecewa saat ini, saya sudah mulai memikirkan tantangan berikutnya," ujarnya.
Baca Juga: AS Mulai Serangan Tarif Baru, Kenakan Bea Masuk 25% untuk Mayoritas Impor dari Brasil Sepanjang turnamen, Inggris sempat menunjukkan performa yang menjanjikan. Dipimpin kapten Harry Kane dan didukung penampilan impresif Jude Bellingham, tim berjuluk The Three Lions mampu membangkitkan optimisme publik. Meski tidak selalu tampil meyakinkan, Inggris beberapa kali berhasil melewati pertandingan sulit berkat semangat juang dan kekompakan tim. Kane dan Bellingham juga menjadi motor serangan dengan masing-masing mencetak enam gol sepanjang turnamen. Salah satu momen yang menunjukkan daya juang Inggris terjadi saat mengalahkan Meksiko pada babak 16 besar. Bermain dengan 10 pemain di Mexico City, mereka tetap mampu bertahan dari tekanan dan meraih kemenangan. Namun, perjuangan tersebut tidak cukup untuk membawa Inggris melangkah lebih jauh. Kekalahan dari Argentina membuat Inggris kembali tersingkir di semifinal untuk kedua kalinya dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir, setelah sebelumnya juga gagal mempertahankan keunggulan pada semifinal edisi 2018.
Baca Juga: Selebrasi Pemain Timnas Argentina Setelah Tundukkan Inggris Berujung Kontroversi Gelandang Jude Bellingham tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya usai pertandingan. Ia mengaku sangat terpukul karena gagal membantu Inggris mengakhiri penantian panjang meraih gelar juara dunia. "Rasanya sangat menyakitkan. Saya ingin menjadi bagian dari tim Inggris yang akhirnya bisa mewujudkannya dan mengakhiri penantian panjang ini. Sangat berat harus kembali mengatakan hal yang sama kepada para pendukung," ujar Bellingham. Bellingham sebelumnya juga merasakan kekecewaan saat Inggris kalah dari Spanyol pada final Euro 2024. Meski tim terus menunjukkan perkembangan dalam beberapa tahun terakhir, impian mengangkat trofi Piala Dunia masih harus kembali ditunda.