Belum Ada Sentimen Signifikan, Aset Kripto Diperkirakan Masih Akan Sideways



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bulan Januari 2022 lalu jadi periode yang menantang bagi industri aset kripto. Pasalnya, kinerja aset kripto berkapitalisasi besar rontok dan berada di zona merah semua pada periode tersebut. 

Merujuk Coinmarketcap, hingga pukul 17.00 WIB, Jumat (4/2), Bitcoin berada di level US$ 37.931,87 per BTC. Secara year to date (ytd), level tersebut telah terkoreksi 20,46%. Berikutnya, nasib Ethereum juga tidak jauh berbeda. Kini harganya berada di US$ 2.841,78 atau terkoreksi 24,85% secara ytd.

Lalu, Binance Coin (BNB) terpantau ada di level US$ 379,26 atau telah turun 28,22% secara ytd. Aset kripto lain seperti Cardano (ADA) dan Solana (SOL) juga punya kinerja yang serupa. Tercatat, masing-masing berada di level US$ 1,07 dan US$ 106,37 atau sudah turun 22,53% dan 40,95%.


Country Manager Luno Indonesia Jay Jayawijayaningtiyas tidak menampik bahwa Januari merupakan bulan yang menantang di pasar kripto. Hal ini dipicu oleh larinya para trader/investor dari aset-aset berisiko tinggi, termasuk aset kripto. Kekhawatiran akan pengetatan kebijakan moneter The Fed dalam waktu dekat jadi biang keladinya.

Namun, ia melihat dalam sepekan terakhir setidaknya pasar aset kripto sudah cenderung membaik. Hal ini tercermin dari harga Bitcoin yang menunjukkan kenaikan sebesar 4,65% dalam sepekan terakhir. Terlebih lagi pergerakan tren Bitcoin cenderung sideways dengan volatilitas rendah. 

Baca Juga: Tips Memilih Aset Kripto Melalui Analisis Fundamental

Indikator lain juga terlihat dari dari Indeks Fear and Greed yang kini hanya berada di posisi “fear” setelah lama berada di posisi “extreme fear”. Pada Minggu (30/1), indeks Fear and Greed sempat menyentuh angka 30 atau level tertingginya di tahun 2022.

“Jika sentimen pasar terus meningkat, kemungkinan traders/investor akan perlahan mulai kembali melirik altcoin yang lebih high-risk dan lebih volatile dibanding bitcoin,” kata Jay belum lama ini.

Namun, CEO Triv Gabriel Rey masih menyangsikan ada perbaikan kinerja aset kripto secara signifikan dalam waktu dekat. Ia melihat, saat ini belum ada tanda-tanda sentimen positif untuk pasar kripto. Mengingat pergerakan harga aset kripto sangat dipengaruhi sentimen, minimnya katalis ini membuat pergerakan harganya masih akan sideways.

Sayangnya, kondisi sideways ini juga bukanlah hal yang baik bagi pasar kripto. Ia menjelaskan, ketika dalam posisi sideways, investor ritel tidak akan berani ambil posisi di pasar. Di saat yang bersamaan, investor institusi juga masih wait and see. Alhasil, para investor justru saling tunggu sehingga tidak ada pergerakan harga yang signifikan.

“Saat ini belum ada tanda-tanda sentimen positif untuk pasar aset kripto, artinya belum akan ada pumping dana yang mengalir ke aset kripto. Jadi tren sideways ini masih akan berlanjut sampai ada sentimen baru di pasar,” kata Gabriel kepada Kontan.co.id, Jumat (4/2).

Gabriel mengatakan, saat ini, salah satu sentimen positif yang mungkin hadir adalah jika ada raksasa teknologi seperti Google, Apple, Microsoft, dsb yang mengadopsi teknologi kripto ke dalam platform mereka. Hal ini bisa meningkatkan optimisme pelaku pasar, dan setidaknya bisa membuat pasar kembali bergairah.

Sementara untuk jangka panjang, sentimen yang perlu diwaspadai adalah implementasi kebijakan kenaikan suku bunga The Fed. Menurutnya, jika pelaksanaan kebijakan dilakukan sesuai dengan jadwal dan dikomunikasikan secara baik, pasar sudah priced in

Namun, jika di luar ekspektasi pasar, otomatis akan sangat berdampak pada aset kripto. Pasalnya, ketika investor risk-off, aset yang paling dihindari adalah aset paling berisiko, dalam hal ini aset kripto.

Tim Luno dan Arcane Research menyebutkan, saat ini level US$ 40.000 per BTC menjadi level resistance Bitcoin. Dengan kenaikan BTC yang perlahan namun pasti akhir-akhir ini, kemungkinan level resistance ini akan diuji dalam waktu dekat. Breakout dari level ini bisa mengakhiri bullish dan menandakan pembalikan tren.

“Namun, jika harga bergerak ke bawah, level support penting berikutnya ada di kisaran US$ 29.000. Breakout ke bawah angka US$29,000 bisa menjadi pertanda buruk dan berpotensi memicu kekacauan di pasar,” tulis Luno dan Arcane Research.

Dengan kondisi yang ada saat ini, Gabriel menyarankan investor sebaiknya memang wait and see terlebih dahulu untuk mengamati perkembangan pasar. Namun, bagi yang punya orientasi jangka panjang, bisa melakukan Dollar Cost Averaging (DCA).

Baca Juga: Investor Beralih ke Aset yang Lebih Aman, Kinerja Aset Kripto Jeblok di Awal 2022

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat