JAKARTA. Perjuangan panjang masih harus ditempuh Serikat Pekerja UOB Buana. Sebab, hingga pukul 20.00 semalam, perundingan yang sudah berjalan selama lima jam belum menuai keputusan ataupun kesepakatan dengan manajemen. "Masih berjalan alot, kami tidak tahu kapan perundingan ini akan selesai," kata Kepala Litbang dan Crisis Center SPKUOBB, Hari Wibowo ketika dihubungi KONTAN, di Kantor UOB Buana, Rabu (15/4). Perundingan tersebut masih membahas empat tuntutan SPKUOBB, antara lain, kenaikan gaji, kenaikan bonus, pengangkatan karyawan kontrak dan penjelasan mengenai pengalihan program dana pensiun. "Masalah gaji dan bonus ini masih terus dibahas, dua tuntutan lainnya belum tuntas," kata Ketua SPKUOBB ketika ditemui di sela-sela istrihat sholat magrib kemarin. Rapat yang diikuti sekitar 15 perwakilan dari SPKUOBB dan lima direksi UOBB, seperti Direktur Utama, Armand B Arief,Wakil Direktur utama Wang Lian Kie (utusan Singapura), Direktur SDM Pardy kendy, dan Direktur Property and general Support Safrullah Hadi Saleh berjalan tanpa perkembangan berarti. Sebelumnya, Sekjen SPKUOBB sempat mengancam akan melakukan mogok kerja lagi jika belum ada keputusan dari manajemen. SPKUOBB pun sudah menurunkan permintaan kenaikan gaji mereka, dari sebelumnya 15% (tertinggi) menjadi 11,4%. Kenaikan gaji itu menimbang sikap manajemen yang terkesan tidak fair. Ada kesenjangan antara karyawan lama dan baru. Kenaikan gaji yang diberikan manajemen, sebelumnya hanya sekitar 0-1,5%. Sementara untuk bonus, SPKUOBB juga meminta ada penyesuaian besaran bonus yang diberikan. Selama dipegang manajemen baru, bonus yang diberikan turun drastis hingga 50-80%. Ratusan karyawan masih menunggu di lobi dan diluar kantor pusat UOB Buana di Harmoni. Mereka masih menanti hingga putusan selesai. Salah satu karyawan yang tidak mau disebutkan namanya bilang, mereka akan melakukan mogok kerja lagi dan mengajukan mosi tidak percaya kepada manajemen jika keputusan tidak segera diambil manajemen.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Belum Ada Titik Temu untuk Pekerja UOB Buana
JAKARTA. Perjuangan panjang masih harus ditempuh Serikat Pekerja UOB Buana. Sebab, hingga pukul 20.00 semalam, perundingan yang sudah berjalan selama lima jam belum menuai keputusan ataupun kesepakatan dengan manajemen. "Masih berjalan alot, kami tidak tahu kapan perundingan ini akan selesai," kata Kepala Litbang dan Crisis Center SPKUOBB, Hari Wibowo ketika dihubungi KONTAN, di Kantor UOB Buana, Rabu (15/4). Perundingan tersebut masih membahas empat tuntutan SPKUOBB, antara lain, kenaikan gaji, kenaikan bonus, pengangkatan karyawan kontrak dan penjelasan mengenai pengalihan program dana pensiun. "Masalah gaji dan bonus ini masih terus dibahas, dua tuntutan lainnya belum tuntas," kata Ketua SPKUOBB ketika ditemui di sela-sela istrihat sholat magrib kemarin. Rapat yang diikuti sekitar 15 perwakilan dari SPKUOBB dan lima direksi UOBB, seperti Direktur Utama, Armand B Arief,Wakil Direktur utama Wang Lian Kie (utusan Singapura), Direktur SDM Pardy kendy, dan Direktur Property and general Support Safrullah Hadi Saleh berjalan tanpa perkembangan berarti. Sebelumnya, Sekjen SPKUOBB sempat mengancam akan melakukan mogok kerja lagi jika belum ada keputusan dari manajemen. SPKUOBB pun sudah menurunkan permintaan kenaikan gaji mereka, dari sebelumnya 15% (tertinggi) menjadi 11,4%. Kenaikan gaji itu menimbang sikap manajemen yang terkesan tidak fair. Ada kesenjangan antara karyawan lama dan baru. Kenaikan gaji yang diberikan manajemen, sebelumnya hanya sekitar 0-1,5%. Sementara untuk bonus, SPKUOBB juga meminta ada penyesuaian besaran bonus yang diberikan. Selama dipegang manajemen baru, bonus yang diberikan turun drastis hingga 50-80%. Ratusan karyawan masih menunggu di lobi dan diluar kantor pusat UOB Buana di Harmoni. Mereka masih menanti hingga putusan selesai. Salah satu karyawan yang tidak mau disebutkan namanya bilang, mereka akan melakukan mogok kerja lagi dan mengajukan mosi tidak percaya kepada manajemen jika keputusan tidak segera diambil manajemen.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News