KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Pemerintah India berupaya meredam gelombang penolakan terhadap kebijakan wajib penggunaan bensin campuran etanol 20% atau E20. Kebijakan tersebut menuai kritik luas dari masyarakat yang mengeluhkan penurunan efisiensi bahan bakar hingga performa kendaraan. Penolakan terhadap E20 semakin menguat dan berkembang menjadi salah satu isu politik terbesar yang dihadapi pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi, terutama di tengah posisi India sebagai pasar otomotif terbesar ketiga di dunia. Kebijakan wajib penggunaan bensin E20 mulai diberlakukan tahun lalu sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah sekaligus mendorong penggunaan bahan bakar ramah lingkungan.
Namun, polemik semakin memanas pekan ini setelah Jaksa Agung India R. Venkataramani dalam persidangan menyebut E20 sebagai sebuah "eksperimen" yang hasil akhirnya baru akan diketahui pada tahun depan. Pernyataan tersebut langsung memicu kontroversi. Pemerintah India membantah bahwa komentar tersebut pernah disampaikan. Namun, rekaman video persidangan yang memperlihatkan Venkataramani mengucapkan kata tersebut kemudian viral di media sosial.
Baca Juga: Rusia Serang Kereta Api Ukraina, Lebih dari 200 Lokomotif Rusak Sepanjang 2026 Kepada Reuters pada Jumat (3/7/2026), Venkataramani menjelaskan bahwa istilah "eksperimen" yang digunakannya merujuk pada aspek pasokan etanol, bukan terhadap kebijakan penggunaan bensin E20 itu sendiri. Meski demikian, klarifikasi tersebut belum mampu meredakan kemarahan publik. Para pengkritik menilai pemerintah terlalu tergesa-gesa menerapkan kebijakan tersebut tanpa didukung kajian yang memadai. Kantor pers pemerintah India pada Jumat menepis kritik tersebut dan menyebutnya sebagai "klaim-klaim liar", seraya mengimbau masyarakat agar "tidak terpancing oleh provokasi yang sengaja memancing kemarahan."
Pemerintah Yakinkan Pengendara
Untuk meredakan kekhawatiran masyarakat, Menteri Perminyakan India Hardeep Singh Puri pada Kamis (2/7) membandingkan penggunaan etanol dengan bahan bakar yang digunakan pada mobil balap. "Bahan bakar etanol juga digunakan pada mobil balap. Akselerasinya justru meningkat. Memang konsumsi bahan bakarnya mungkin sedikit lebih boros," ujar Puri. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai upaya pemerintah meyakinkan masyarakat bahwa penggunaan E20 tetap aman bagi kendaraan.
Aksi Protes Disiapkan di New Delhi
Di sisi lain, penolakan terhadap kebijakan E20 terus berkembang. Tokoh masyarakat sekaligus pendukung Partai Kongres, Tehseen Poonawalla, mengaku tengah menyiapkan aksi protes di New Delhi pada Minggu (5/7/2026). Menurutnya, ribuan orang telah menyatakan minat untuk bergabung dalam demonstrasi tersebut. Banyak pengendara mengaku frustrasi karena kini tidak lagi memiliki pilihan selain membeli bensin E20 di stasiun pengisian bahan bakar. Pernyataan Jaksa Agung mengenai "eksperimen" semakin memicu gelombang kritik di media sosial. Menteri di salah satu negara bagian dari Partai Kongres, Priyank Kharge, melalui platform X menilai implementasi kebijakan E20 dilakukan tanpa konsultasi yang memadai. Ia mengatakan pemerintah "tidak bisa menantang warga untuk membuktikan adanya kerusakan ketika data milik pemerintah sendiri mengenai kebijakan tersebut masih belum tersedia." Ratusan pengguna kendaraan juga membagikan keluhan di platform X mengenai penurunan efisiensi bahan bakar serta meningkatnya keausan berbagai komponen kendaraan setelah menggunakan bensin E20.
Baca Juga: Perang Iran Picu Guncangan Pasokan Minyak Terbesar Sepanjang Sejarah Salah satu video yang telah ditonton lebih dari 500.000 kali memperlihatkan seorang pengendara bernama Manish Kashyap berdiri di sebuah bengkel bersama mobilnya yang menurutnya mengalami kerusakan akibat penggunaan bensin E20. Dalam video tersebut ia mengatakan, "Saya telah mengeluarkan banyak uang untuk membeli mobil ini dan membayar pajak, tetapi setelah dua bulan mobil saya justru tidak bisa digunakan."
Pemerintah Sebut E20 Punya Banyak Manfaat
Di tengah kontroversi tersebut, pemerintah India tetap mempertahankan kebijakan E20. Menurut pemerintah, penggunaan bensin campuran etanol mampu mengurangi emisi karbon, menekan impor minyak mentah sehingga menghemat devisa negara, sekaligus meningkatkan pendapatan petani melalui bertambahnya permintaan bahan baku pertanian untuk produksi etanol. Pemerintah juga menilai transisi menuju bahan bakar berbasis etanol merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang India dalam memperkuat ketahanan energi dan mencapai target pengurangan emisi karbon.