Beras Sumbang Inflasi, Bulog Usul Salurkan 300.000 Ton Beras Premium



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perum Bulog menyiapkan langkah intervensi untuk meredam kenaikan harga beras premium yang dinilai turut memberikan tekanan terhadap inflasi.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, pihaknya tengah mengusulkan kepada Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) agar Bulog diperbolehkan menyalurkan beras premium untuk melakukan penetrasi pasar.

Usulan tersebut disiapkan di tengah laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat beras memberikan andil terhadap inflasi Agustus 2026 sebesar 0,02%.


Baca Juga: Mentan: Metode PM AAS Bisa Dongkrak Produksi Padi hingga 13 Ton Per Hektare

Menurut Rizal, tekanan harga saat ini terutama terjadi pada beras premium. Sementara itu, harga beras medium yang menjadi bagian besar dari cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog relatif tidak mengalami kenaikan signifikan.

“Setelah kami pelajari dengan tim kami, Bulog itu adalah adanya kenaikan harga beras premium yang menjadi kendala kami. Sedangkan untuk beras medium tidak mengalami kenaikan harga yang signifikan, bahkan flat,” ujar Rizal dalam konferensi pers di Kantor Bulog, Selasa (1/9/2026).

Rizal mengatakan, stok beras premium yang dimiliki Bulog saat ini masih terbatas. Padahal, Bulog memiliki cadangan beras pemerintah dalam jumlah besar yang saat ini didominasi beras medium.

Karena itu, Bulog mengusulkan agar cadangan tersebut dapat dialihkan menjadi beras premium sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Beras premium tersebut nantinya dapat digunakan untuk melakukan intervensi ketika harga di pasar mengalami kenaikan.

“Kami sedang membuat usulan ke Kemenko Pangan dan Kepala Bapanas agar ke depan Bulog diizinkan sesuai dengan Perbapanas untuk mengalihkan cadangan beras pemerintah menjadi beras premium,” jelasnya.

Menurut Rizal, langkah tersebut ditujukan untuk menjaga harga beras premium di tingkat konsumen agar kembali sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). 

“Tujuannya apa? Untuk menstabilkan harga agar harga di pasar itu sesuai dengan HET,” katanya.

Untuk tahap awal, Bulog mengajukan penyaluran sekitar 300.000 ton beras premium pada periode September hingga Desember 2026.

Rizal menjelaskan, beras tersebut akan digunakan sebagai instrumen penetrasi pasar untuk menstabilkan harga beras premium yang saat ini dinilai sudah berada di atas HET.

“Estimasi yang kami ajukan adalah sekitar 300.000 ton. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan hanya untuk sebagai penetrasi untuk menstabilkan harga beras premium,” ujarnya.

Baca Juga: Target Pajak Kelas Kakap Naik Jadi Rp 806 Triliun, Ini Tiga Pemicunya

Rizal berharap usulan tersebut dapat menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam mengendalikan harga beras premium sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Dengan intervensi melalui pasokan beras premium, Bulog berharap kenaikan harga di pasar dapat ditekan. 

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan komoditas beras menyumbang inflasi pada Agustus 2026. Tercatat, beras mengalami inflasi bulanan (month to month) sebesar 0,42% dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,02%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, inflasi beras disebabkan oleh produksi padi di lapangan. Secara historis, Agustus memang mulai memasuki fase transisi setelah melewati puncak panen raya.

"Inflasi beras juga ini dipengaruhi terutama oleh faktor distribusi beras ke pasarnya. Terutama pada beberapa wilayah di Indonesia kan ada sentra produksinya, ada juga yang non-sentra produksinya," ujar Ateng dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026). 

Selain itu, Ateng menjelaskan adanya penurunan potensi luas panen dan produksi beras pada Agustus 2026. Pasokan gabah dan beras harian yang masuk ke penggilingan pada periode ini juga cenderung lebih terbatas jika dibandingkan dengan saat puncak panen raya lalu. 

Baca Juga: Deretan Tokoh Ternama Siap Bagikan Strategi Produktivitas Berbasis AI di IHCBS 2026

Potensi luas panen pada Agustus sampai dengan Oktober 2026 diperkirakan mencapai 3,07 juta hektare (ha) atau turun 0,04 juta ha jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dengan demikian, luas panen padi pada periode Januari-Oktober 2026 diperkirakan mencapai 10,31 juta ha atau naik 0,01% jika dibandingkan dengan periode yang sama 2025.

"Angka proyeksi-proyeksi kumulatif hingga Oktober berada dalam kondisi relatif aman ya, pasokan untuk yang gabah beras harian yang masuk ke penggilingan pada periode ini cenderung lebih terbatas jika dibandingkan dengan pada saat terjadinya puncak panen," beber Ateng.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News