KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Uji kelayakan seleksi calon Anggota Dewan Komisioner (ADK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dimulai hari ini, Rabu (11/3). Salah satu sosok yang mencalonkan diri adalah Deputi Komisioner Perencanaan Strategis, Keuangan, Sekretariat Dewan Komisioner dan Logistik OJK Darmansyah. Darmansyah menerangkan alasan utama mengikuti seleksi calon pemimpin OJK karena melihat adanya kesempatan, khususnya bagi pegawai yang berasal dari internal untuk ikut. "Tentu hal itu menumbuhkan kepercayaan pada talenta-talenta terbaiknya OJK supaya jangan khawatir bahwa bisa sampai final atau sampai sini," ungkapnya saat ditemui seusai menjalani uji kelayakan di Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Darmansyah berharap keikutsertaannya juga menjadi pemicu semangat bagi talenta internal OJK ke depannya, sehingga tak kalah juga dengan talenta eksternal.
Baca Juga: Saham Big Banks Rebound Rabu (11/3), BBNI dan BBRI Menguat, BBCA dan BMRI Melemah "Jadi, saya meyakini dengan masuknya saya, memberikan semangat pada talenta-talentanya OJK ke depan," tuturnya. Lebih lanjut, Darmansyah menyampaikan persiapannya mengikuti seleksi tidak banyak karena waktunya sangat pendek. Meskipun demikian, dia mengaku tak ada masalah dalam menjabarkan visi misi karena semua berkaitan dengan bidang yang dikerjakan selama ini. "Tentu sejalan dengan yang menjadi tugas saya saat ini. Saya yakin jabatan yang akan saya tuju masih sejalan dengan pekerjaan. Persiapannya tidak terlalu rumit bagi saya," ucapnya. Sementara itu, Darmansyah menyebut terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang mesti dijalankan jika terpilih menjadi pemimpin OJK. Dia melihat perlu adanya konsolidasi internal dan pembenahan internal. Darmansyah mengibaratkan OJK harus seperti kapal yang jalannya harus secara bersama-sama. Selain itu, melakukan sinergi dengan lembaga lain karena OJK tidak bisa sendiri walaupun bersifat lembaga independen. "Kami butuh penyidik, serta butuh lembaga dan kementerian lainnya, terutama ketika menjalankan dukungan program-program pemerintah. Kami juga butuh bekerja sama dengan industri, sehingga kebutuhan industri bisa tersampaikan kepada OJK," ujarnya. Darmansyah menyampaikan dalam menjalin kerja sama dan upaya lainnya, tetap memerlukan kerangka
Good Corporate Governance (GCG) dan tetap menjaga integritas. Menurutnya, strategi dalam memperkuat pengawasan sektor perbankan, pasar modal, dan industri keuangan lainnya juga diperlukan. Dia menyampaikan perlu adanya penguatan digital, khususnya di era digitalisasi saat ini. "Saat ini tidak mudah kalau masih menggunakan model pengawasan konservatif, sehingga harus memperkuat sistem digital dan pengawasan digital. Penggunaan teknologi
Artificial Intelligence (AI) sekarang, termasuk penguatan dalam sistem database, sangat dibutuhkan," ungkapnya.
Sementara itu, Darmansyah juga angkat bicara mengenai demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Dia bilang hal tersebut sudah masuk dalam delapan aksi reformasi. Artinya, demutualisasi menjadi salah satu yang difokuskan. "Artinya, hal itu akan dilaksanakan OJK, supaya adanya persaingan atau tidak dimonopoli. Jadi, terjadi keterbukaan dalam pengelolaan perusahaan dan perlu dilakukan," kata Darmansyah.
Baca Juga: Calon DK OJK, Hasan Fawzi Targetkan Kapitalisasi Pasar Modal Tembus Rp 25.000 Triliun Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News