Berencana Tambah Lini Bisnis Baru, Intip Prospek Tower Bersama Infrastructure (TBIG)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melalui anak usahanya, PT Tower Bersama berencana menambah kegiatan usaha baru, yaitu Aktivitas Jasa Gerbang Akses Internet alias Network Access Point (NAP).

Untuk bisa merambah ke lini bisnis tersebut, TBIG akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Agustus 2026.

Direktur Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso menjelaskan penambahan usaha ini dilakukan karena dalam kegiatan usaha utama, TBIG seringkali mendapatkan kebutuhan pelanggan yang tidak hanya sewa menara. 


Helmy bilang, ada kebutuhan atas konektivitas yang lebih luas seiring dengan meningkatnya kebutuhan dasar bagi perusahaan maupun individu atas layanan infrastruktur jaringan Fixed Broadband. 

Baca Juga: Bukalapak (BUKA) Tuntas Gunakan Dana IPO Rp 21,33 Triliun

“Sejalan dengan perkembangan tersebut, dalam rencana bisnis jangka panjangnya, manajemen bermaksud menambah kegiatan usaha TBIG melalui entitas anak,” katanya kepada Kontan, Kamis (16/7). 

TBIG bakal menyediakan layanan NAP yang berfungsi sebagai penghubung jaringan internet distribusi lokal dengan jaringan backbone internet internasional, yang ditujukan bagi internet service provider (ISP), korporasi hingga institusi. 

Pengembangan bisnis NAP akan memanfaatkan aset yang telah dimiliki grup, seperti jaringan serat optik sepanjang lebih dari 60.000 kilometer, kepemilikan menara telekomunikasi, data center, serta basis pelanggan ISP yang telah ada. 

Berdasarkan studi kelayakan yang disusun Kantor Jasa Penilai Publik Martokoesoemo, Pakpahan & Rekan dalam keterbukaan informasi, kebutuhan investasi awal untuk bisnis NAP diperkirakan sekitar Rp 47,4 miliar. 

Helmy bilang, dana untuk kebutuhan investasi awal itu akan berasa dari kas internal TBIG. Dana itu bakal digunakan untuk pembelian perangkat, kontrak sewa kapasitas Indefeasible Right of Use (IRU) dan biaya konsultasi. 

“Dana akan diambil dari kas internal perusahaan yang bersumber dari pendapatan,” jelas Helmy. 

 
TBIG Chart by TradingView

Menilik kinerja per 31 Maret 2026, TBIG membukukan pendapatan sebesar Rp 1,71 triliun dengan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 390,09 miliar. 

Adapun penambahan kegiatan usaha baru ini diproyeksikan menghasilkan internal rate of return (IRR) sebesar 18,65%, net present value (NPV) positif Rp 37,83 miliar dan profitability index sebesar 1,86 kali. 

Equity Research Analyst NH Korindo Sekuritas Indonesia Leonardo Lijuwardi memproyeksikan, TBIG dapat membukukan kinerja yang relatif stabil pada tahun buku 2026. 

Dia memperkirakan pendapatan TBIG akan naik tipis 0,8% menjadi Rp 6,97 triliun dan laba bersih meningkat 0,4% menjadi Rp 1,43 triliun. Ini mencerminkan tren industri menara yang tetap tangguh. 

Leonardo mencermati, TBIG masih memiliki peluang mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata industri melalui bisnis fiber, penurunan tenancy ratio dalam dua tahun terakhir menjadi tantangan tersendiri

“Risiko utama bagi TBIG meliputi pertumbuhan tenancy yang melemah serta pertumbuhan segmen fiber yang tidak memenuhi ekspektasi,” tulisnya dalam riset. 

Baca Juga: IHSG Ditutup Naik 1,10% ke 6.108 pada Kamis (16/7), WIFI, HRTA, ASII Top Gainers LQ45

Lebih lanjut, NH Korindo Sekuritas merekomendasikan peringkat overweight untuk TBIG dengan target harga di Rp 1.800 per saham. Ini mencerminkan Forward EV/EBITDA sebesar 12,3 kali. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News