KONTAN.CO.ID - Harga minyak bergerak naik-turun dalam perdagangan yang volatil pada Jumat (24/4/2026), namun mencatat kenaikan sepanjang pekan ini. Para pedagang menimbang risiko gangguan pasokan terhadap kemungkinan dimulainya kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang dapat membantu membatasi gangguan tersebut. Melansir
Reuters, Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup di US$ 105,33 per barel, naik 26 sen atau sekitar 0,3%. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup di US$ 94,40 per barel, turun US$ 1,45 atau 1,5%.
Sepanjang pekan ini, Brent naik sekitar 16% dan WTI melonjak hampir 13%. Kontrak berjangka minyak memangkas kenaikan awal setelah Reuters melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi diperkirakan tiba di Islamabad pada Jumat malam untuk membahas proposal melanjutkan kembali pembicaraan damai dengan AS, setelah perundingan gagal awal pekan ini. Harga turun lebih jauh setelah
CNN melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump mengirim utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Pakistan untuk melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran. Kemudian, Trump mengatakan kepada Reuters bahwa Iran berencana mengajukan tawaran yang bertujuan memenuhi tuntutan AS. “Mereka membuat sebuah tawaran dan kita harus melihat nanti,” kata Trump.
Baca Juga: Fenomena Emas: Harga Naik Jumat, Tapi Anjlok Lebih dari 2% Sepekan Pada awal sesi perdagangan, harga sempat naik 2% akibat kekhawatiran eskalasi militer baru di kawasan tersebut, sehari setelah Iran merilis rekaman komando yang menaiki sebuah kapal kargo di Selat Hormuz, sementara upaya membuka kembali jalur laut vital itu mengalami kebuntuan. “Para pedagang sedang melikuidasi posisi beli menjelang akhir pekan yang sangat sulit diprediksi dan akan menyesuaikan kembali posisi mereka pada Minggu malam berdasarkan perkembangan dari Iran,” kata Tamas Varga dari broker minyak PVM. Pelayaran melalui Selat Hormuz, yang sebelum perang mengangkut sekitar seperlima dari produksi minyak global, masih secara efektif terblokir. Penangkapan dua kapal kargo oleh Iran menyoroti kesulitan Washington dalam upayanya mengendalikan jalur pelayaran tersebut. Data pelayaran menunjukkan hanya lima kapal, termasuk sebuah kapal tanker produk minyak Iran, yang bergerak melewati Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Pada Kamis, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran mungkin telah menambah persenjataannya “sedikit” selama gencatan senjata dua minggu, namun ia menambahkan bahwa militer AS dapat menghancurkannya dalam satu hari. Pada Rabu, ia mengatakan akan memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu untuk memberi ruang bagi pembicaraan damai lebih lanjut.
Tonton: Ekonom Ingatkan Inflasi Terancam Naik Jika Harga Minyak Bertahan Tinggi “Karena ketegangan meningkat pekan ini sejak tidak ada pertemuan antara AS dan Iran yang terwujud, gencatan senjata tanpa batas kemungkinan akan berjalan bersamaan dengan konflik yang terus berlanjut,” kata konsultan minyak Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates. “Hal ini mendukung harga yang lebih tinggi, terutama untuk Brent dan diesel, yang lebih sensitif terhadap kelanjutan perang ini.” Haitong Futures mengatakan dalam sebuah laporan bahwa jika pembicaraan damai gagal menunjukkan kemajuan hingga akhir April dan pertempuran kembali pecah, harga minyak dapat naik ke level tertinggi baru tahun ini. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News