Berikut ini capaian lifting lima KKKS utama migas hingga September



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat data produksi siap jual (lifting) minyak dan gas bumi (migas) lima kontraktor utama. Data tersebut merupakan realisasi operasional hingga periode 30 September 2018.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher menyebutkan, kelima kontraktor minyak bumi itu ialah PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) dengan 210.582 barel oil per day (bopd), ExxonMobil Cepu Limited (MCL) sebesar 207.936 bopd, PT. Pertamina EP (PEP) dengan 73.618 bopd, Pertamina Hulu Mahakam (PHM) 44.346 bopd, dan CNOOC sebesar 31.141 bopd.

Sedangkan di sektor gas, kelima kontraktor terbesar itu adalah BP berau (Tangguh) 191.411 boepd, Pertamina Hulu Mahakam 154.964 boepd, Copi Grissik 149.839 boepd, PT. Pertamina EP 146.071 boepd, dan ENI Muara Bakau 119.071 boepd.


Menurut Wisnu, di sektor minyak, kelima Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) tersebut menyumbang total 567.623 bopd dari 773.923 bopd atau setara dengan 73% dari keseluruhan lifting minyak nasional. Sedangkan di sektor gas, kelima KKKS tersebut menyumbang total 761.356 boepd dari 1.144.928 boepd atau sekitar 66% dari keseluruhan lifting gas nasional.

“5 KKKS terbesar oil itu menyumbang 73% dari total lifting minyak nasional, sedangkan 5 KKKS terbesar gas, menyumbang 66% dari total lifting gas nasional,” ujar Wisnu kepada Kontan.co.id, Senin (8/10).

Namun, Wisnu bilang, capaian tersebut masih di bawah target, yaitu hanya mencapai 96%. Menurutnya, ada beberapa kendala dalam produksi. Antara lain seperti di PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) yang menemui kendala teknis peralatan produksi, di CPI Rokan masih ada efek dari kendala teknis pipa di fasilitas produksi. 

Selain itu, di Medco Natuna hasil pemboran belum sesuai ekspektasi dan reschedule jadwal pemboran, di PEP hasil pemborannya masih di bawah ekspektasi, dan di PHM ada penundaan pemboran terkait pemilihan rig.

“Capaiannya sekitar 96 %, sedikit di bawah target. Karena masih ada beberapa kendala dalam produksi, namun kendala ini ada yang sedang dan sudah tertangani” jelasnya.

Sementara jika menilik target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, di sektor minyak bumi, masih ada tiga KKKS yang masih dibawah target lifting tahunan. Pertama, CPI yang ditargetkan 213.551 bopd namun per 30 September 2018 masih sebesar 210.582 bopd.

Kedua, Pertamina EP yang ditarget APBN 2018 sebesar 85.869 bopd, namun masih 73.618 bopd, dan ketiga, PHM yang di APBN dipatok sebesar 48.271 bopd, tapi lifting selama sembilan bulan terakhir ini baru mencapai 44.346 bopd. 

Sedangkan dua KKKS lainnya sudah melampui target yang dipatok di APBN 2018, yakni ExxonMobil di Blok Cepu mencapai 207.936 bopd, lebih tinggi dari target di APBN 2018 sebesar 205.000 bopd. Serta CNOOC dengan 31.141 bopd, sedangkan di APBN 2018 dipatok sebesar 30.000 bopd.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .