Berikut rekomendasi dua analis untuk saham ERAA dan TELE



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah memastikan ketetapan aturan International Mobile Equipment Identity (IMEI) akan terbit pada 17 Agustus 2019 dan diusulkan berlaku penuh pada 17 Februari 2020.

Lantas, bagaimana aturan tersebut berdampak untuk emiten yang lini bisnisnya terpapar langsung dengan ketetapan tersebut? Sebagai contoh, ada PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA, anggota indeks Kompas100 ini) dan juga PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) yang merupakan perusahaan distributor ponsel terbesar di Indonesia.

Baca Juga: IHSG turun lagi ke 6.210 pada akhir perdagangan Selasa (13/8)

Director of Marketing and Communications ERAA Djatmiko Wardoyo menyebut belum ada efek terhadap penjualan lantaran aturan tersebut belum diterapkan.

Akan tetapi, ERAA menilai dengan pemberlakuan aturan IMEI, akan ada kepastian iklim usaha bagi perusahaan yang menaati ketetapan pemerintah tersebut.

Djatmiko menambahkan ERAA juga menilai ada dua faktor lain yang berkaitan dengan pentingnya aturan IMEI. Pertama, perlindungan terhadap konsumen dalam bentuk garansi resmi ponsel dari principal. Kedua, peningkatan potensi penerimaan negara dari pajak pertambahan nilai (PPN) ponsel resmi.

Baca Juga: Erajaya (ERAA) aktif bangun ekosistem IoT di semester I 2019

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximillianus Nico Demus menyatakan, emiten sektor perdagangan, jasa, dan investasi seperti ERAA dan TELE memang sedang babak belur karena kehadiran barang-barang ilegal (black market). Terlebih lagi, sebelum adanya aturan IMEI, emiten-emiten itu juga tertekan dengan kehadiran e-commerce.

Menurut Nico, ERAA sendiri sebetulnya sudah sulit melawan e-commerce dari segi harga dan model bisnis. Sebab, banyak produk di e-commerce yang juga mengklaim original dan bahkan bisa membantu untuk klaim garansi resmi.

Baca Juga: Garmin gandeng Erajaya Group selenggarakan Garmin Run Indonesia 2019

Ditambah lagi produk tersebut dijual dengan harga yang lebih murah dari toko distributor resmi. "Contoh, Erajaya punya erafone.com, tapi selama harganya masih sama seperti di mal atau gerai dia lainnya, dan lebih mahal dari e-commerce,ya pasti kalah," ujar Nico kepada Kontan pada Selasa (13/8).


Senada dengan ERAA, Direktur Utama Tiphone Mobile Indonesia Lily Salim mengatakan penetapan aturan IMEI tidak akan memberikan efek tertentu terhadap TELE. Sebab, emiten tersebut hanya fokus di merek Samsung saja. Menurut Lily, harga produk Samsung di pasar lokal masih sangat bersaing.

Menanggapi hal itu, Nico menyatakan wajar jika TELE mengklaim seperti itu karena Samsung punya pasarnya sendiri.

Baca Juga: Erafone membuka sembilan gerai baru

Meski penetapan aturan IMEI dapat membantu kinerja emiten tersebut menjadi lebih baik, namun Nico tetap menyarankan kedua emiten tersebut perlu mengubah pola bisnisnya untuk penjualan telepon seluler.

Melansir data RTI, saham TELE pada perdagangan (13/8) ditutup stagnan di level Rp 340 per saham, sedangkan sepekan lalu performanya turun 9,57%. Bahkan, secara year to date juga turun 63,83%.

Sementara, saham ERAA naik 4,81% atau setara 100 poin ditutup di level Rp 2.180 per saham. Performa pekan lalu juga naik 18,48%, sedangkan secara year to date turun 0,91%.

Baca Juga: Kresna Sekuritas: IHSG Ditopang Sentimen Positif, Spekulasi Beli PWON, ERAA, & PGAS

Pada waktu yang sama, analis Panin Sekuritas William Hartanto merekomendasikan buy saham ERAA dan TELE untuk jangka pendek. Menurut William, pemberlakuan aturan IMEI menjadi sentimen positif sehingga kedua saham dapat menguat.

Ia menargetkan harga ERAA di level Rp 2.500 per saham, sedangkan untuk TELE di range level Rp 380 - Rp 400 per saham. Sementara, Nico menyarankan buy saham ERAA dengan target harga di range area Rp 2.100 - Rp 2.200.

Baca Juga: IHSG turun, ini rekomendasi saham ERAA, WTON, dan ANTM untuk hari ini

Namun, untuk jangka panjang keduanya sama-sama merekomendasikan untuk melihat kembali kinerja kedua emiten.

"Jangka panjang perlu menunggu hasil kinerja emiten karena menjadi pembuktian apakah aturan IMEI efektif atau tidak," tutup William.

Editor: Yudho Winarto