Maraknya proyek pembangunan rumah dan konstruksi di Jakarta membuat permintaan pasir seakan tak ada habis-habisnya. Bagi beberapa kalangan yang bergerak di usaha konstruksi, pasar pasir Cipinang sudah tidak asing lagi. Dari kawasan inilah berasal pasokan pasir untuk daerah Jakarta Timur.Ketika sedang berkendaraan menuju pasar induk beras Cipinang, Jakarta Timur, Anda akan melihat banyak gundukan pasir. Gundukan ini teronggok di dekat tembok beton yang membatasi lahan di samping rel dengan jalan. Setelah melalui sebuah bak penampungan sampah yang berbau tidak sedap, akan mulai terlihat beberapa “gerbang” pada tembok tersebut. Nah, di balik rangkaian gerbang itulah terdapat lapangan luas yang penuh dengan gundukan pasir. Jumlahnya lebih banyak dan lebih tinggi daripada yang ada di luar.Di lapangan terbuka ini ada berbagai papan nama yang terpampang menunjukkan pemiliknya. Gunung pasir tersebut adalah milik berbagai pangkalan pasir yang berjualan di sana. Kawasan Cipinang sudah lama beken sebagai sentra pedagang pasir. Dari situlah, asal pasokan pasir untuk pembangunan berbagai proyek properti dan konstruksi di Jakarta. Orang-orang yang berdagang di sentra ini menyebut kawasannya sebagai pasar pasir. Di samping pasir cor, pasir putih, dan pasir halus, mereka juga menjual batu belah dan batu split. Awal mula kawasan ini menjadi sentra pasir tak bisa dilepaskan dari bencana alam berupa letusan Gunung Galunggung di Jawa Barat pada 1984. Letusan ini meninggalkan persediaan pasir yang berlimpah. Salah satu anak usaha Humpuss Grup, Bumindo, memindahkan pasir tersebut memakai kereta dan menjadikan kawasan di samping rel kereta api Cipinang sebagai wilayah pangkalan pasir. Ketika Bumindo bangkrut sekitar tahun 1986, daerah ini sudah terkenal sebagai sentra pasir. Karena itu, banyak mantan karyawan Bumindo yang sebelumnya telah dirumahkan membuat usaha sendiri, yaitu berdagang pasir. Salah satu pedagang yang dari awal berjualan di situ adalah kakek dari H. Afdal. Kini, Afdal meneruskan bisnis berjualan pasir tersebut dan menjadi pemilik Putra Utama Jaya alias PUJ. Afdal mengatakan, areal yang semula menjadi tempat penjualan pasir itu lebih kecil dari sekarang. "Hanya dari depan pasar induk beras sampai ke tempat penampungan sampah," katanya. Areal tersebut kini berada di balik tembok beton. Ada beberapa pangkalan, misalnya U.D. Kurnia milih H. Oman, yang mulai beroperasi tahun 1990-an. Namun, sejak penggusuran rumah-rumah di sepanjang jalan itu beberapa tahun lalu, jumlah pedagang pasir bertambah. Banyak orang memanfaatkan lahan tersebut sebagai pangkalan pasir. Maka, jumlah pedagang di sana bertambah dari 14 menjadi 35 pangkalan pasir.Salah satu toko yang berada di pinggir jalan adalah Unedo Jaya. Giat Siahaan, pemilik Unedo Jaya, mengaku berjualan di lokasi tersebut sejak tahun 2007. Dia bilang, sebelum menjadi pangkalan pasir, jalan menuju pasar induk beras itu rawan karena sepi. "Banyak perampokan truk yang mengirim beras tengah malam," kata Giat.Namun, sejak ada pangkalan pasir yang beroperasi 24 jam, jalan tersebut menjadi lebih aman. Kini, setelah 26 tahun berlalu, pasir yang dijajakan di sana bukan lagi berasal dari Galunggung, namun dari daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Cirebon atau Cimangkok. Mengeruk Untung dari Biaya KirimanMembeli sesuatu di pusat penjualannya, tentu memiliki kelebihan tersendiri. Terutama dari segi harga. Begitu pula harga jual pasir di sentra pasir Cipinang. Harga pasir di sana jauh lebih murah dibandingkan harga di toko bangunan. Misal, untuk setiap satu truk ukuran sedang, harga pasir hanya Rp 150.000. Seperti pangkalan pasir di daerah lainnya, harga pasir di sentra pasir Cipinang lebih murah Rp 200.000-Rp 300.000 per truk dibandingkan harga di toko bahan bangunan. Anda tinggal memilih membeli di salah satu lapak dari 35 pangkalan pasir yang ada di sentra ini. Pelanggannya rata-rata adalah toko material atau proyek pembangunan dan renovasi rumah. Salah satu pangkalan pasir tertua di sana adalah Putra Utama Jaya milik Afdal. Di atas lapak 600 meter persegi, dia menjual lima jenis pasir. Afdal mengaku tidak mengambil untung banyak dari bisnisnya itu. Dari setiap truk tronton yang memasok pasir ke lapaknya, Afdal hanya bisa mengutip keuntungan sebesar Rp 200.000. Namun, berkat tingginya frekuensi pembelian, dia bisa mengantongi laba sekitar Rp 1 juta per hari. Dus, dalam sebulan, Afdal mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp 30 juta. Penjual pasir lainnya di pangkalan pasir Cipinang adalah Unedo Jaya.
BERKAH DARI GURUN PASIR DI CIPINANG
Maraknya proyek pembangunan rumah dan konstruksi di Jakarta membuat permintaan pasir seakan tak ada habis-habisnya. Bagi beberapa kalangan yang bergerak di usaha konstruksi, pasar pasir Cipinang sudah tidak asing lagi. Dari kawasan inilah berasal pasokan pasir untuk daerah Jakarta Timur.Ketika sedang berkendaraan menuju pasar induk beras Cipinang, Jakarta Timur, Anda akan melihat banyak gundukan pasir. Gundukan ini teronggok di dekat tembok beton yang membatasi lahan di samping rel dengan jalan. Setelah melalui sebuah bak penampungan sampah yang berbau tidak sedap, akan mulai terlihat beberapa “gerbang” pada tembok tersebut. Nah, di balik rangkaian gerbang itulah terdapat lapangan luas yang penuh dengan gundukan pasir. Jumlahnya lebih banyak dan lebih tinggi daripada yang ada di luar.Di lapangan terbuka ini ada berbagai papan nama yang terpampang menunjukkan pemiliknya. Gunung pasir tersebut adalah milik berbagai pangkalan pasir yang berjualan di sana. Kawasan Cipinang sudah lama beken sebagai sentra pedagang pasir. Dari situlah, asal pasokan pasir untuk pembangunan berbagai proyek properti dan konstruksi di Jakarta. Orang-orang yang berdagang di sentra ini menyebut kawasannya sebagai pasar pasir. Di samping pasir cor, pasir putih, dan pasir halus, mereka juga menjual batu belah dan batu split. Awal mula kawasan ini menjadi sentra pasir tak bisa dilepaskan dari bencana alam berupa letusan Gunung Galunggung di Jawa Barat pada 1984. Letusan ini meninggalkan persediaan pasir yang berlimpah. Salah satu anak usaha Humpuss Grup, Bumindo, memindahkan pasir tersebut memakai kereta dan menjadikan kawasan di samping rel kereta api Cipinang sebagai wilayah pangkalan pasir. Ketika Bumindo bangkrut sekitar tahun 1986, daerah ini sudah terkenal sebagai sentra pasir. Karena itu, banyak mantan karyawan Bumindo yang sebelumnya telah dirumahkan membuat usaha sendiri, yaitu berdagang pasir. Salah satu pedagang yang dari awal berjualan di situ adalah kakek dari H. Afdal. Kini, Afdal meneruskan bisnis berjualan pasir tersebut dan menjadi pemilik Putra Utama Jaya alias PUJ. Afdal mengatakan, areal yang semula menjadi tempat penjualan pasir itu lebih kecil dari sekarang. "Hanya dari depan pasar induk beras sampai ke tempat penampungan sampah," katanya. Areal tersebut kini berada di balik tembok beton. Ada beberapa pangkalan, misalnya U.D. Kurnia milih H. Oman, yang mulai beroperasi tahun 1990-an. Namun, sejak penggusuran rumah-rumah di sepanjang jalan itu beberapa tahun lalu, jumlah pedagang pasir bertambah. Banyak orang memanfaatkan lahan tersebut sebagai pangkalan pasir. Maka, jumlah pedagang di sana bertambah dari 14 menjadi 35 pangkalan pasir.Salah satu toko yang berada di pinggir jalan adalah Unedo Jaya. Giat Siahaan, pemilik Unedo Jaya, mengaku berjualan di lokasi tersebut sejak tahun 2007. Dia bilang, sebelum menjadi pangkalan pasir, jalan menuju pasar induk beras itu rawan karena sepi. "Banyak perampokan truk yang mengirim beras tengah malam," kata Giat.Namun, sejak ada pangkalan pasir yang beroperasi 24 jam, jalan tersebut menjadi lebih aman. Kini, setelah 26 tahun berlalu, pasir yang dijajakan di sana bukan lagi berasal dari Galunggung, namun dari daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Cirebon atau Cimangkok. Mengeruk Untung dari Biaya KirimanMembeli sesuatu di pusat penjualannya, tentu memiliki kelebihan tersendiri. Terutama dari segi harga. Begitu pula harga jual pasir di sentra pasir Cipinang. Harga pasir di sana jauh lebih murah dibandingkan harga di toko bangunan. Misal, untuk setiap satu truk ukuran sedang, harga pasir hanya Rp 150.000. Seperti pangkalan pasir di daerah lainnya, harga pasir di sentra pasir Cipinang lebih murah Rp 200.000-Rp 300.000 per truk dibandingkan harga di toko bahan bangunan. Anda tinggal memilih membeli di salah satu lapak dari 35 pangkalan pasir yang ada di sentra ini. Pelanggannya rata-rata adalah toko material atau proyek pembangunan dan renovasi rumah. Salah satu pangkalan pasir tertua di sana adalah Putra Utama Jaya milik Afdal. Di atas lapak 600 meter persegi, dia menjual lima jenis pasir. Afdal mengaku tidak mengambil untung banyak dari bisnisnya itu. Dari setiap truk tronton yang memasok pasir ke lapaknya, Afdal hanya bisa mengutip keuntungan sebesar Rp 200.000. Namun, berkat tingginya frekuensi pembelian, dia bisa mengantongi laba sekitar Rp 1 juta per hari. Dus, dalam sebulan, Afdal mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp 30 juta. Penjual pasir lainnya di pangkalan pasir Cipinang adalah Unedo Jaya.