KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen tinta isi ulang, laser toner dan kertas foto PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) yang biasa dikenal dengan merek Blueprint menyiapkan sejumlah strategi dan ekspansi untuk mengejar target pertumbuhan kinerja 7% sepanjang tahun ini. Direktur Utama PT Berkah Prima Perkasa Tbk Herman Tansri menjelaskan dalam perkembangannya, BLUE melakukan ekspansi usaha dengan menambah lini produk dalam bentuk kertas thermal dan printer thermal portable untuk keperluan point of sale (POS) serta jasa percetakan tekstil. “Saat ini strategi kami mayoritas melanjutkan penambahan varian produk baru dan juga konsentrasi di lini bisnis cetak tekstil dan POS,” jelasnya saat di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (8/7).
Saat ini BLUE memiliki lima mesin dengan nilai investasi sebesar Rp 3 miliar-Rp 4 miliar untuk mesin yang sudah existing. Utilisasi keseluruhan mesin yang berlokasi di Sunter sudah 70% dan dapat memproduksi 30.000 lembar per bulan. Herman memproyeksikan, kalau menambah hingga tiga shift dan memaksimalkan produksinya, BLUE dapat memproduksi 60.000 lembar per bulan atau dua kali lipat dari kapasitas produksi saat ini. Rencananya, perusahaan akan mengalokasikan belanja modal tahun ini sebesar Rp 1,5 miliar untuk mendatangkan dua mesin cetak tekstil katun elastis yang akan menambah utilisasi sebesar 40%. Herman bilang peluang bisnis cetak tekstil khususnya bahan katun sangat potensial melihat industri cetak tekstil sedang naik daun dan disenangi desainer kenamaan. Ditambah lagi produk cetakan tekstil BLUE ramah lingkungan. Asal tahu saja BLUE sudah banyak melayani cetak tekstil bahan polyester setahun belakangan dan selanjutnya akan menjajaki bahan katun baik yang biasa dan elastis. Herman bilang bisnis cetak kain telah menyumbang 5% dari total penjualan 2018. Pada tahun ini Herman menargetkan kontribusi dari cetak tekstil dapat tumbuh dua kali lipat menjadi 10%-11% di akhir tahun. Adapun fokus lini bisnis lainnya yakni produk baru yakni POS yang akan diluncurkan Januari 2020 mendatang atau enam bulan setelah IPO. Namun sayang Herman tidak bisa membuka nilai investasi untuk keperluan POS. Selama menjalani bisnis sebagai produsen penunjang jasa percetakan, Herman mengakui mengalami banyak tantangan. Di antaranya momentum pemilihan presiden (pilpres) yang membuat dealer menahan pemesanan. “Hal ini berdampak pada melambatnya pertumbuhan bisnis BLUE. Namun setelah semua agenda politik selesai penjualan BLUE kembali normal dan optimistis kinerjanya akan lebih baik,” jelasnya. Pada kuartal I-2019 BLUE mencatatkan penjualan sama dengan periode yang sama sebelumnya yakni Rp 33,2 miliar. Namun Herman menyatakan laba kotor BLUE menurun Rp 1 miliar dari Rp 10,86 miliar pada kuartal I 2018 menjadi Rp 9,86 miliar disebabkan banyaknya biaya keperluan untuk IPO. Adapun penjualan Januari hingga Mei 2019 tercatat naik 2,87% year on year (yoy) menjadi Rp 41,7 miliar. Sedangkan laba kotornya naik menjadi Rp 9,9 miliar. Herman bilang pendapatan bisa fluktuatif tergantung produk yang dijual karena marjin produk yang dijual selisihnya ada yang cukup jauh. Tantangan lainnya yang dihadapi BLUE adalah persaingan produsen tinta (cartridge) dan tinta dari produsen printer yang menawarkan produk sejenis dengan harga yang lebih kompetitif. “BLUE memitigasi risiko ini dengan melakukan survei harga di pasar, menjamin kualitas tinta dan layanan yang baik bagi para pelanggan,” ujarnya.