KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kecintaan terhadap camilan tradisional, mendorong Salmi Sufraini mengembangkan usaha makanan ringan berbasis kacang dengan label Kacang Cokelat Emak alias Cangcomak. Usaha yang dia rintis pada 2019 lalu di Palmerah, Jakarta, ini berupaya menghadirkan camilan tradisional dengan tampilan lebih modern dan berkelas. Dari keinginan tersebut, Salmi menggunakan resep warisan sang ibu yang menyatukan kacang panggang dengan balutan cokelat.
"Terinspirasi dari resep warisan ibu, kami ingin menciptakan perpaduan rasa yang unik," ujar Salmi kepada KONTAN pekan lalu.
Baca Juga: Menemami Secangkir Kopi dengan Camilan Sejiwa Cangcomak mendapat sambutan positif dari pasar. Dari yang hanya melayani pesanan orang-orang terdekat, kini jangkauannya telah meluas ke berbagai wilayah di Indonesia berkat pemasaran digital melalui Instagram dan TikTok. Dan, Cangcomak menjadi pilihan
hampers hari raya hingga
goodie bag di acara-acara kantor dan pertemuan. Alhasil, kapasitas produksi menyesuaikan permintaan pasar. Makanya, proses produksi Cangcomak didukung tiga karyawan tidak tetap yang membantu di waktu-waktu tertentu saat pesanan melonjak.
Baca Juga: Cuan dari Menjaga Budaya Nusantara Produk Cangcomak terdiri dari tiga varian kacang, yakni
choco peanut, choco cashews, dan almond. Harganya dibanderol mulai Rp 10.000 hingga Rp 75.000 per item. Klaim Salmi, keunggulan Cangcomak terdapat pada autentisitas rasa. Ketiga jenis kacang yang dia gunakan, dipanggang dengan sempurna alih-alih digoreng. "Ini yang membuat kacang Cangcomak lebih sehat, renyah, dan tahan lama," ungkap Salmi.
Baca Juga: Kisah Produk Daun Kelor Yang Sudah Tembus Pasar Global Cokelat tebal yang melapisinya juga memiliki rasa manis yang pas. Salmi juga memperhatikan estetika kemasan atau desain produk. Sejauh ini, produk Cangcomak mendapat respons yang baik dari pasar. Melihat respons pasar, Cangcomak menargetkan peningkatan jumlah pelanggan loyal alih-alih mengejar target pasar baru pada tahun ini. Langkah tersebut Salmi lakukan untuk bisa menjaga kualitas rasa dan mengembangkan desain produk yang lebih menarik lagi.
Baca Juga: Madu Desa Pelawan yang Menyengat Pasar Global Maklum, untuk tahun ini, laju usahanya lagi menurun imbas kenaikan bahan baku premium. Saat stabil, omzet Cangcomak bisa tembus Rp 6 juta per bulan. "Mulai 2025 hingga saat ini, Cangcomak dalam
mode survival, masih dalam posisi bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi," ujarnya.
Baca Juga: Cuan Gurih dari Camilan Khas Tasikmalaya Untuk menyiasatinya, Salmi melakukan manajemen stok bahan baku yang lebih terencana dan meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi kualitas produk. Cangcomak juga akan menggenjot pemasaran digital, meluncurkan varian rasa baru, serta membuka peluang kolaborasi dengan
brand lokal lain ataupun korporasi. Meski belum ekspor skala besar, Cangcomak pernah masuk ke Rusia, Amerika Serikat, Australia, Korea Selatan, dan Singapura. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News