Berlina (BRNA) Gelar Rights Issue, Konversi Utang Rp 264,38 Miliar Jadi Modal



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Berlina Tbk (BRNA) akan menggelar Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) III alias rights issue maksimal 543,95 juta saham. Aksi korporasi ini akan disertai konversi utang menjadi modal saham.

Melansir keterbukaan informasi, pemegang saham pengendali BRNA yaitu PT Dwi Satrya Utama (DSU) akan melaksanakan haknya melalui mekanisme kompensasi utang. Nilai pokok utang yang dapat dikonversi mencapai maksimal Rp 264,38 miliar.

Manajemen BRNA menjelaskan DSU juga akan bertindak sebagai pembeli siaga. Dus, DSU berpotensi menyerap sisa saham yang tidak diambil pemegang saham lain melalui mekanisme kompensasi utang.


Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp 18.091 per Dolar AS Saat Pasar Respons Positif Rating S&P

"Jumlah pokok utang yang secara aktual akan dikompensasikan (set-off) pada saat pelaksanaan PMHMETD III akan bergantung pada jumlah saham yang diambil bagian oleh DSU," tulis Manajemen BRNA dalam keterbukaan informasi, Selasa (14/7/2026).

Adapun BRNA menetapkan harga pelaksanaan rights issue sebesar Rp 685 per saham dengan rasio HMETD 9:5. BRNA juga akan menerbitkan maksimal 181,32 juta Waran Seri I sebagai insentif bagi pemegang saham yang mengeksekusi haknya.

Rencannya, dana hasil rights issue yang berasal dari penyetoran tunai akan digunakan untuk modal kerja. Sementara, dana dari pelaksanaan Waran Seri I juga akan dialokasikan guna mendukung kebutuhan modal kerja BRNA.

Manajemen BRNA menjelaskan konversi utang menjadi saham diharapkan memperkuat struktur permodalan sekaligus menurunkan liabilitas. Ini juga dapat meningkatkan fleksibilitas keuangan BRNA untuk mendukung pengembangan usaha.

"Pelaksanaan transaksi melalui mekanisme kompensasi (set-off) atas utang pokok kepada DSU akan mengurangi jumlah liabilitas dan meningkatkan ekuitas," jelas Manajemen BRNA.

Baca Juga: Sumber Global (SGER) Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp 92 Miliar

Berdasarkan proforma keuangan per 31 Maret 2026, total liabilitas BRNA diproyeksikan turun menjadi RpĀ 1,03 triliun dari Rp 1,24 triliun. Sementara total ekuitas diperkirakan meningkat menjadi Rp 1,39 triliun.

Untuk bisa mengeksekusi aksi korporasi ini, BRNA akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 5 Agustus 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News