Berpotensi Delisting, Northcliff Citranusa (SKYB) Rambah Bisnis Bijih Besi & Batubara



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Northcliff Citranusa Indonesia Tbk (SKYB) menyampaikan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait keberlangsungan bisnisnya. SKYB juga menginformasikan rencana bisnis ke depan, salah satunya dengan merambah sektor tambang dan energi.

Dalam keterbukaan informasi yang diterbitkan pada Rabu (13/9), manajemen SKYB menyatakan bisnis perdagangan voucher dan handphone pada PT Sinergitama Komindo dan pengelolaan gedung pada PT Griya Boga Selaras sudah tidak beroperasi. Sedangkan bisnis SKYB yang masih berjalan adalah bisnis hotel pada PT Taman Suci Abadi.

Manajemen SKYB mengungkapkan ada kenaikan rata-rata tingkat keterisian (occupancy rate), pendapatan dan laba dari Hotel Taman Suci. Rata-rata okupansi yang sebesar 35%-40% pada 2022 naik menjadi 50%-70% hingga periode Juni 2023.


Sejalan dengan kenaikan occupancy rate, rata-rata pendapatan per bulan Hotel Taman Suci juga naik dari Rp 55 juta pada tahun 2022 menjadi Rp 80 juta pada tahun ini. Membawa laba rata-rata per bulan naik dari Rp 3,2 juta per bulan pada tahun 2022 menjadi Rp 13,6 juta pada 2023.

Baca Juga: Terancam Delisting, Ini Upaya Northcliff Citranusa (SKYB) Perbaiki Keuangan

Sumber dana untuk biaya pengelolaan berasal dari pendapatan hotel dan pinjaman dari pemilik Hotel Taman Suci. Adapun, jumlah karyawan Hotel Taman Suci saat ini hanya berjumlah 10 orang.

Soal pembagian fee hotel antara pemilik dan pengelola, manajemen SKYB menyampaikan bahwa pembagian bagi hasil dari laba bersih sebesar 70% untuk pengelola hotel dan 30% untuk pemilik hotel.

Terkait kondisi keuangan, hingga periode 30 Juni 2023 SKYB memiliki total aset sebesar Rp 31,44 miliar dengan total liabilitas Rp 1,88 miliar dan posisi saldo laba tercatat minus Rp 68,34 miliar.

Pendapatan SKYB hingga Juni 2023 senilai Rp 499,9 juta dengan biaya operasional Rp 440,81 juta, sehingga SKYB membukukan laba kotor Rp 60,13 juta. Sementara itu, SKYB mencatatkan laba bersih Rp 45,10 juta per Juni 2023.

Membuka Bisnis Baru

Dalam keterbukaan informasi yang sama, manajemen SKYB juga menyampaikan progres untuk calon investor baru dan rencana pembukaan bisnis baru pada tahun ini. "Progres negosiasi dengan calon investor sudah mencapai tahap sekitar 75%," ungkap manajemen SKYB, Rabu (13/9).

SKYB berencana mengembangkan jenis bisnis baru, salah satunya di bidang usaha energi, yakni pertambangan irone ore (bijih besi) dan batubara. Pengembangan bisnis baru ini telah selesai dalam proses perencanaan dan persiapan, yang selanjutnya menunggu hasil finalisasi dengan pihak investor.

Proses persiapan mencapai dua hingga tiga bulan, di mana bisnis baru ini rencananya dimulai pda awal tahun 2024. Ada tiga tahap dalam penambahan modal bisnis baru yang akan diperoleh dari pihak investor, yakni:

  • Tahap ke-1 sebesar 10% sebelum akhir tahun 2023 yang akan digunakan untuk persiapan pekerjaan tambang.
  • Tahap ke-2 sebesar 40% pada bulan Januari - Februari 2024 yang akan digunakan untuk pembelian alat dan mobilisasi.
  • Tahap ke-3 sebesar 50% pada bulan Maret - April 2024 yang akan digunakan untuk modal operasional pekerjaan tambang.

 
SKYB Chart by TradingView

Selain merambah bisnis pertambangan irone ore dan batubara, SKYB juga berencana melakukan renovasi pada Hotel Taman Suci. SKYB masih menunggu dana dari investor, dimana negosiasi dengan calon investor telah mencapai 70%.

"Kami menargetkan mulai renovasi setelah mendapatkan pendanaan dari investor sebelum akhir 2023 dan selesai renovasi adalah 6 bulan-8 bulan," terang manajemen SKYB.

Saat ini, manajemen SKYB juga masih melakukan persiapan penyusunan laporan keuangan untuk tahun buku 2019, 2020, 2021 dan 2022. Sekadar mengingatkan, SKYB saat ini berada di papan pemantauan khusus yang mendapatkan notasi khusus (special notation) dari BEI.

Terkena suspensi, harga SKYB pun tertidur di level Rp 51 per saham. Dalam pengumuman tertanggal 16 Agustus 2023, BEI mengumumkan potensi delisting SKYB. Adapun, saham SKYB tercatat di BEI pada sektor teknologi dengan sub-sektor software & IT services.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari