KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan menghapus saham yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia sebagai saham dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi alias
high shareholding concentration (HSC). Yakni, PT Barito Renewables Energy Tbk (
BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (
DSSA) yang berpotensi terdepak. BREN dan DSSA memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi masing-masing sebesar 97,31% dan 95,76%. Martha Christina, Head of Investment Information Team Mirae Asset Sekuritas menyampaikan ada potensi outflow di saham BREN dan DSSA, terutama tekanan pada jangka pendek sambil menunggu keputusan review di 12 Mei 2026.
“BREN dan DSSA sebaiknya dihindari dulu karena ada outflow, walaupun porsinya tidak sebesar. Apalagi BREN tidak masuk porsi 10 besar,” jelasnya dalam paparan, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga: Pasar Obligasi Bergerak Terbatas, Risiko Domestik Masih Jadi Sorotan Berdasarkan nilai kapitalisasi pasar, DSSA memiliki Foreign Inclusion Factor (FIF)
adjusted market cap sebesar Rp 66,1 triliun di Indeks MSCI Indonesia. Sementara, FIF
adjusted market cap BREN sebesar Rp 42,1 triliun. “Sebaiknya dihindari sampai berita negatif selesai. Sementara untuk saham lainnya seperti bank besar, penurunan harga saham yang terjadi bisa menjadi kesempatan untuk
buy on deep,” ucapnya. Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia mengatakan mau tidak mau,
passive fund akan mengurangi posisi di saham BREN dan DSSA dan nampaknya pengelola dana ini sudah melakukannya dari jauh-jauh dari. “Status HSC tetap negatif karena menurunkan visibilitas dan akses terhadap investor institusi global. Sementara untuk saham MSCI lainnya, tekanan lebih bersifat selektif dan bertahap, terutama pada emiten dengan
free float terbatas,” kata dia. Dari sisi strategi, kata Liza, investor tidak perlu
panic selling namun tetap selektif. Menurutnya, saham dengan risiko HSC atau
free float rendah sebaiknya dikurangi alokasinya walaupun secara
trading opportunity menarik untuk
speculative buy.
“Fokus bisa dialihkan ke saham konglomerasi lain dengan likuiditas tinggi, free float besar dan fundamental kuat. Momentum untuk kembali masuk ke saham MSCI biasanya lebih optimal setelah ada kejelasan lanjutan dari MSCI dan tekanan mulai mereda,” jelas Liza Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News