Berpotensi diuntungkan dari IPO Mitratel, simak rekomendasi saham Telkom (TLKM)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) diproyeksikan akan ikut mendapatkan imbas positif dari rencana Initial Public Offering (IPO) salah satu anak usahanya, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel)

Rencananya, Mitratel akan melantai di bursa pada bulan November ini. Analis RHB Sekuritas Michael Wilson menjelaskan, rencana IPO yang akan dilakukan oleh Mitratel akan memberikan katalis positif untuk pergerakan harga saham ke depan.

“Kontribusi pendapatan Mitratel ke Telkom itu sekitar Rp 5 triliun per tahun. Seharusnya, efek pelepasan Mitratel ini bisa unlock value ke TLKM sebesar 15% untuk peningkatan harga sahamnya,” kata Michael kepada Kontan.co.id, Senin (8/11).


Sementara analis Ciptadana Sekuritas Gani dalam risetnya pada 6 September 2021 memperkirakan, valuasi Mitratel sekitar 10 kali EV/EBITDA, atau dua kali lipat dari valuasi TLKM yang saat ini sebesar 4,8 kali pada 2022. Asumsi tersebut mempertimbangkan jumlah menara Mitratel yang sebanyak 28.000 unit dengan rasio sewa 1,57x.

Dengan adanya keuntungan valuasi yang signifikan, Gani menilai aksi IPO Mitratel tersebut akan memberi keuntungan terhadap pergerakan harga saham TLKM.

Di luar potensi efek dari IPO, dari sisi kinerja TLKM pada semester II-2021, Michael menilai dengan kapasitas yang lebih tinggi seiring re-farm 2.3 Ghz akan memberikan output yang lebih baik, dan pada akhirnya bisa meningkatkan market share TLKM. 

Baca Juga: Mitratel siap berpisah dari Telkom Indonesia (TLKM), intip rekomendasi saham TLKM

Namun, pada kuartal III-2021, menurutnya Average Revenue Per User (ARPU) untuk segmen selular masih akan menantang, walaupun sudah melewati titik terendahnya.

“Jadi prospek TLKM sebenarnya masih cukup stabil, tidak terlalu tinggi pertumbuhannya. Apalagi, kompetisi paket data masih tetap berlanjut dan pertumbuhan di Indihome yang pelan-pelan melambat,” imbuh Michael.

 
TLKM Chart by TradingView

Adapun, jumlah pelanggan baru Indihome pada semester I-2021 kemarin tercatat hanya bertambah sebanyak 284.000 pengguna. Jauh dari target yang sempat diutarakan pihak manajemen sebesar 1 juta untuk tahun ini. 

Walau begitu, Gani melihat lambatnya pertumbuhan pengguna baru ini dikompensasi dengan naiknya ARPU yang lebih tinggi dari perkiraan, yakni sebesar Rp 270.000 atau naik 12,5% secara yoy. Menurutnya, ARPU Indihome masih akan berpotensi terus mengalami kenaikan pada paruh kedua tahun ini, walaupun untuk jumlah pengguna barunya mungkin tidak jauh berbeda dari paruh pertama tahun ini.

Sementara dari segmen digital yang dimiliki TLKM, Michael melihat investasi yang dilakukan lebih bersifat jangka panjang dan hasilnya baru akan terlihat pada beberapa tahun kemudian. 

Pihak TLKM berencana untuk meningkatkan dana kelolaan mereka di MDI dari yang saat ini sebesar US$ 900 juta seiring dengan besarnya potensi startup digital. Adapun, MDI saat ini memiliki dua portofolio startup unicorn pada Nium dan Kredivo serta dua startup lainnya yang berpotensi menyusul jadi unicorn. 

“Kredivo yang dikabarkan akan melakukan IPO seharusnya bisa membawa keuntungan investasi sebesar US$ 100 juta untuk TLKM seiring market value-nya sebesar US$ 2,5 miliar. Tapi yang terpenting, para unicorn ini merupakan investasi jangka panjang, dan MDI masih terus mencari sinergi potensial lainnya,” jelas Michael.

Selain itu, Gani juga melihat TLKM mencari pertumbuhan pendapatan dari segmen enterprise yang akan didorong oleh pusat data dan layanan cloud. Secara prospek, hal ini disebut menarik lantaran permintaan yang tumbuh pesat seiring dengan meningkatnya bisnis digital. 

Tercatat, TLKM kini mengoperasikan 26 data center, 21 di antaranya adalah domestik sedangkan sisanya 5 berlokasi di luar negeri, dengan total kapasitas sekitar 43 MW. Tingkat utilisasi adalah 76% untuk yang berada di Indonesia sedangkan yang berada di luar negeri memiliki tingkat utilisasi 80%. 

Apalagi, TLKM saat ini juga sedang dalam proses untuk menyelesaikan tier 3 dan 4 baru ‘Hyperscale Data Center’ di total area 65.000 m2. Proyek ini diekspektasikan akan diselesaikan secara bertahap dan tahap pertama dijadwalkan selesai pada akhir tahun 2021 dengan kapasitas 25MW. Pada tahap akhir, data center ini akan memiliki total kapasitas 75MW. 

Baca Juga: Konsolidasi penting untuk membangun ekosistem industri telekomunikasi

“Menurut kami, pertumbuhan aset digital milik TLKM ini nantinya dapat memberikan dukungan untuk pendapatan dan pertumbuhan dividen TLKM,” kata Gani.

Pada tahun ini, Gani memperkirakan TLKM akan mengantongi pendapatan sebesar Rp 141,70 triliun dengan laba bersih Rp 22,13 triliun. Lalu untuk tahun depan akan memperoleh pendapatan Rp 147,80 triliun dengan laba bersih Rp 23,20 triliun.

Gani saat ini merekomendasikan untuk beli saham dengan target harga Rp 4.350 per saham. 

Sementara Michael bilang ia sedang mereview target harga untuk TLKM karena target harga yang ia pasang yakni Rp 3.700 per saham sudah terlewati. Pada Senin (8/11), saham TLKM ditutup di level Rp 3.750 per saham.

Selanjutnya: Valuasi Menarik, Saham IPO Mitratel Layak untuk Investasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi