Bertemu Gubernur BI, Airlangga Beberkan Strategi Intervensi untuk Jaga Rupiah



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat nilai tukar rupiah di tengah tekanan global dan meningkatnya permintaan dolar Amerika Serikat (AS).

Asal tahu saja nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Selasa (5/5/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,17% secara harian ke Rp 17.424 per dolar AS.  Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,32% secara harian ke Rp 17.425 per dolar AS. 

Pada Selasa pagi (5/5/2026), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyambangi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di kantornya. Airlangga mengaku, pemerintah bersama BI telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah.


Baca Juga: Bahlil Kenaikan BBM Hanya Untuk Industri dan Orang Kaya

Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperkuat kerja sama keuangan bilateral melalui skema swap mata uang dengan sejumlah negara mitra.

“Kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait dengan swap currency dengan China, kemudian dengan berbagai negara lain termasuk Jepang, Korea dan yang lain,” jelasnya dalam konferensi pers, Selasa (5/5/2026).

Melalui kerja sama tersebut, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional, sekaligus memperluas penggunaan mata uang lokal.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan strategi pengelolaan pembiayaan dengan mengoptimalkan penerbitan surat berharga dalam denominasi mata uang alternatif, seperti yuan dan yen.

Langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan permintaan valas serta meredam tekanan terhadap dolar AS di pasar domestik.

Baca Juga: Ekonomi Lampaui Estimasi, Airlangga: Stimulus & Belanja Pemerintah Jadi Pendorong

“Sehingga ke depan kita juga akan terus mempersiapkan komposisi yang terkait dengan tingkat utang yang kita bisa, surat berharga yang bisa kita miliki yang sifatnya seperti dari China ataupun dari yen itu untuk menjaga tekanan terhadap dolar AS,” imbuh Airlangga.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis stabilitas nilai tukar rupiah dapat tetap terjaga, meskipun di tengah dinamika global dan meningkatnya kebutuhan dolar dalam negeri.

Airlangga sebut, pelemahan rupiah saat ini tidak terlepas dari faktor eksternal serta kenaikan kebutuhan dolar yang bersifat musiman.

“Terkait dengan rupiah, mata uang berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap dolar AS dan biasanya juga pada saat musim haji, demand terhadap dolar itu meningkat,” ujar Airlangga.

Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp 17.400 per Dolar AS, BI Lakukan Intervensi untuk Jaga Rupiah

Ia menjelaskan, peningkatan permintaan dolar juga terjadi pada kuartal II seiring dengan kebutuhan pembayaran dividen ke luar negeri, yang turut menambah tekanan di pasar valas domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News