Bertemu PM Takaichi, Trump Ungkap Kekhawatiran tentang Pelemahan Yen



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Presiden AS Donald Trump menyampaikan kekhawatiran mengenai pelemahan yen dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, kata Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama, seraya memberikan rincian yang cukup mendalam mengenai pembicaraan kedua pemimpin tersebut terkait mata uang.

"Dalam pertemuan puncak Jepang-AS baru-baru ini, Presiden Trump menyatakan kekhawatiran mengenai pelemahan yen," ujar Katayama dalam konferensi pers rutin seperti dilansir Reuters, Jumat (25/9/2026).

Ia mengungkapkan rincian percakapan tersebut untuk pertama kalinya setelah berkonsultasi dengan Kantor Perdana Menteri.


"Perdana Menteri Takaichi menyampaikan kepadanya, sebagai prinsip umum, bahwa nilai yen yang terlalu rendah merupakan masalah," kata Katayama.

Baca Juga: FCGF 2026, Singapura Kejar Kerja Sama dengan China di AI dan Ekonomi Hijau

Penjelasan Katayama yang sangat terbuka mengenai pembicaraan para pemimpin—sesuatu yang biasanya dirahasiakan oleh pemerintah—menunjukkan adanya kekhawatiran bersama di Tokyo dan Washington terkait terus merosotnya nilai yen meskipun telah dilakukan intervensi bersama pada bulan Juli.

Takaichi bertemu Trump di New York pada hari Selasa di sela-sela Sidang Umum PBB. Ia kemudian mengatakan kepada para wartawan bahwa mereka melakukan diskusi yang "tepat waktu" mengenai Tiongkok menjelang rencana pertemuan puncak antara Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Katayama mengatakan diskusi para pemimpin mengenai valuta asing tersebut menegaskan kembali sikap bersama AS-Jepang yang mendasari intervensi terkoordinasi pada 31 Juli, termasuk komitmen untuk mengatasi volatilitas berlebihan dan pergerakan nilai tukar yen yang tidak tertib.

"Menyusul pertemuan puncak ini, Menteri Keuangan (Scott) Bessent dan saya akan terus berkomunikasi secara erat mengenai berbagai hal, termasuk valuta asing," ujarnya. Nilai tukar dolar menguat terhadap yen dan mata uang utama lainnya, didorong oleh data ekonomi AS yang kuat, sikap hawkish Federal Reserve, serta lonjakan imbal hasil obligasi AS.

Yen sempat menguat di pasar luar negeri pada hari Jumat setelah otoritas Jepang melakukan pemeriksaan nilai tukar—langkah yang sering dianggap sebagai sinyal awal intervensi mata uang—namun penguatan tersebut tidak bertahan lama.

Baca Juga: Harga Minyak Tergelincir di Pagi Ini (25/9), Pasar Menantikan Gencatan Senjata Iran

Katayama menolak berkomentar mengenai apakah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah secara global sempat dibahas dalam pertemuan puncak Jepang-AS.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun (sebagai acuan) melonjak ke level tertinggi dalam 30 tahun di angka 3,115% pada hari Jumat, menyusul aksi jual besar-besaran di pasar AS.

"Suku bunga dipengaruhi oleh berbagai faktor. Bagi kami, kami terus melakukan apa yang kami bisa," ujar Katayama.