Seperti terjadi di semua industri makanan yang berbahan baku kedelai, para perajin tahu di Kampung Cibuntu, Bandung juga terpukul saat harga kedelai melambung. Padahal beberapa tahun belakangan ini, harga kedelai memang tidak bisa diprediksikan. Kadang-kadang harga kedelai melambung tinggi sekali. Hal ini karena banyak kedelai masih harus diimpor. Para produsen tahu dan tempe di Cibuntu masih ingat tatkala harga kedelai melonjak pada Juli 2012. Waktu itu, produsen tahu dan tempe malah sempat menghentikan produksi secara massal. Tujuan mogok produksi itu adalah untuk mendesak pemerintah agar bisa menekan harga kedelai.Aep Saefuddin, salah satu produsen menuturkan harga kedelai saat ini berada di posisi Rp 74.000 per kilogram (kg). "Harga ini sebenarnya sama dengan harga pada Juli 2012 yang sempat membikin produsen tahu dan tempe mogok produksi," ujar bapak lima anak ini. Karena itu, Aep menyatakan, pasarnya tidak seramai dulu. Dalam kondisi seperti saat ini, Aep bilang, ia hanya memproduksi tahu sesuai pesanan saja sehingga tidak ada produk yang tersisa atau tidak terjual. Harga jualnya mau tidak mau juga harus mengikuti kenaikan harga kedelai impor. Kini pabrik tahu milik Aep berkapasitas produksi 3 kuintal kedelai setiap harinya.Iyam Maryani, produsen tahu lain di Cibuntu menuturkan hal serupa. Ia terpaksa menaikkan harga jual tahunya sebanding dengan kenaikan harga kedelai impor. "Kalau kedelai impor naik 10%, harga tahunya kita naikkan juga 10%," ujar Iyam. Perempuan 47 tahun ini bilang dampak dari kenaikkan harga permintaan tahu ke pabriknya berkurang. Saat ini kapasitas produksi pabrik tahu miliknya, yaitu Tahu Wulan Sari, sebesar 1,2 ton kedelai per hari.Namun ia memiliki trik tersendiri agar pembeli kembali melirik tahu buatannya saat permintaan menurun. Bukan tanpa alasan, menurut Iyam permintaan tahu ke pabriknya saat kedelai mahal, bisa turun hingga 30% dari keadaan normal. Trik yang ia maksud, ia menambah olahan kedelai dengan mentega, bawang putih atau kacang tanah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan rasa sehingga tahu yang dibuatnya lebih enak. Pencampuran itu dilakukan saat kedelai direbus setelah sebelumnya melewati proses penggilingan hingga menjadi bubur kedelai. Iyam bilang, penambahan bahan-bahan tersebut memang menaikkan biaya produksi. Namun trik ini menolong karena konsumen menyukainya. Alasannya rasa tahunya menjadi lebih enak. Namun, trik tersebut hanya bersifat sementara sampai permintaan kembali pulih seperti sediakala. "Setelah permintaan normal, kami kembali seperti semula," ujarnya. Pertimbangannya, "Marjinnya semakin tipis," ungkap Iyam.Memang ironis. Walaupun di Jawa juga banyak petani kedelai, namun kedelai yang diolah di sentra produksi tahu Kampung Cibuntu ini didatangkan dari Amerika, Brasil, Kanada dan China. "Ada yang kita ambil dari importir langsung, ada yang kami beli dari agen," kata Aep menambahkan. (Bersambung)
Besar kecil laba tahu terserah harga kedelai (2)
Seperti terjadi di semua industri makanan yang berbahan baku kedelai, para perajin tahu di Kampung Cibuntu, Bandung juga terpukul saat harga kedelai melambung. Padahal beberapa tahun belakangan ini, harga kedelai memang tidak bisa diprediksikan. Kadang-kadang harga kedelai melambung tinggi sekali. Hal ini karena banyak kedelai masih harus diimpor. Para produsen tahu dan tempe di Cibuntu masih ingat tatkala harga kedelai melonjak pada Juli 2012. Waktu itu, produsen tahu dan tempe malah sempat menghentikan produksi secara massal. Tujuan mogok produksi itu adalah untuk mendesak pemerintah agar bisa menekan harga kedelai.Aep Saefuddin, salah satu produsen menuturkan harga kedelai saat ini berada di posisi Rp 74.000 per kilogram (kg). "Harga ini sebenarnya sama dengan harga pada Juli 2012 yang sempat membikin produsen tahu dan tempe mogok produksi," ujar bapak lima anak ini. Karena itu, Aep menyatakan, pasarnya tidak seramai dulu. Dalam kondisi seperti saat ini, Aep bilang, ia hanya memproduksi tahu sesuai pesanan saja sehingga tidak ada produk yang tersisa atau tidak terjual. Harga jualnya mau tidak mau juga harus mengikuti kenaikan harga kedelai impor. Kini pabrik tahu milik Aep berkapasitas produksi 3 kuintal kedelai setiap harinya.Iyam Maryani, produsen tahu lain di Cibuntu menuturkan hal serupa. Ia terpaksa menaikkan harga jual tahunya sebanding dengan kenaikan harga kedelai impor. "Kalau kedelai impor naik 10%, harga tahunya kita naikkan juga 10%," ujar Iyam. Perempuan 47 tahun ini bilang dampak dari kenaikkan harga permintaan tahu ke pabriknya berkurang. Saat ini kapasitas produksi pabrik tahu miliknya, yaitu Tahu Wulan Sari, sebesar 1,2 ton kedelai per hari.Namun ia memiliki trik tersendiri agar pembeli kembali melirik tahu buatannya saat permintaan menurun. Bukan tanpa alasan, menurut Iyam permintaan tahu ke pabriknya saat kedelai mahal, bisa turun hingga 30% dari keadaan normal. Trik yang ia maksud, ia menambah olahan kedelai dengan mentega, bawang putih atau kacang tanah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan rasa sehingga tahu yang dibuatnya lebih enak. Pencampuran itu dilakukan saat kedelai direbus setelah sebelumnya melewati proses penggilingan hingga menjadi bubur kedelai. Iyam bilang, penambahan bahan-bahan tersebut memang menaikkan biaya produksi. Namun trik ini menolong karena konsumen menyukainya. Alasannya rasa tahunya menjadi lebih enak. Namun, trik tersebut hanya bersifat sementara sampai permintaan kembali pulih seperti sediakala. "Setelah permintaan normal, kami kembali seperti semula," ujarnya. Pertimbangannya, "Marjinnya semakin tipis," ungkap Iyam.Memang ironis. Walaupun di Jawa juga banyak petani kedelai, namun kedelai yang diolah di sentra produksi tahu Kampung Cibuntu ini didatangkan dari Amerika, Brasil, Kanada dan China. "Ada yang kita ambil dari importir langsung, ada yang kami beli dari agen," kata Aep menambahkan. (Bersambung)