Beternak lele pemakan jamu di Aceh Tamiang (1)



Siapa yang tak terbuai oleh kelezatan gurihnya daging lele goreng atau lele masak? Ya, lele adalah ikan air tawar yang nyaris bisa ditemukan di semua lapak warung makanan. Lantaran banyak yang gemar, tak heran jika pusat peternakan lele bertebaran. Salah satunya sentra peternakan lele Kelompak Tani Sido Urip yang ada di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

Untuk menjangkau sentra lele yang lebih dikenal dengan Sentra Lele Tanah Berongga ini, memang bukan perkara mudah karena lokasi sentra ini tak berada di tengah kota. Secara geografis, Aceh Tamiang justru lebih dekat dengan Medan ketimbang Banda Aceh karena kabupaten ini terletak di bagian Selatan Aceh.

Jika Anda naik pesawat terbang dan mendarat di Bandar Udara Kualanamu, Deli Serdang, butuh waktu sekitar enam jam perjalanan darat untuk mencapai lokasi ini.


Namun, perjalanan panjang Anda akan terbayar dengan cerita menarik dari para peternak. Seperti ketika KONTAN berkesempatan mengunjungi sentra ini pada pekan lalu. Di Tanah Berongga, ada 95 kolam lele dengan ukuran kolam rata-rata 3x5x15 meter. Saban 2,5 bulan sekali, kelompok tani di sini menjual 1,5 ton lele.

Bukan sembarang lele yang diternak karena selain pakan ikan, para peternak lele di sini ini juga memberi makan jamu. Itu sebabnya mereka menyebut lele herbal.

Ada 11 bahan jamu, seperti mengkudu, jahe, temulawak dan kunyit. Ada pula daun sirih, daun sirsak, buah kedaung, gula merah, bawang putih dan garam. Bahan-bahan ini dihaluskan kemudian difermentasi selama tiga hari. "Setelah itu diperas dan airnya dicampurkan ke pelet dengan takaran 1,5 liter jamu untuk 7 kilogram (kg) pakan," beber Bambang Sutrisno, peternak yang sekaligus menyandang peran sebagai Ketua Kelompok Tani Sido Urip.

Tak sekadar variasi makanan, para peternak lele mengaku pemberian jamu membawa banyak manfaat. Dari kualitas lele, para peternak mengklaim ternakan lele mereka tidak seamis lele yang diternakkan biasa dan lebih sedikit lendirnya.

Sementara dari sisi waktu panen, lele herbal bisa dipanen dalam waktu 2,5 bulan sedangkan lele biasa biasa dipanen dalam tiga bulan. "Karena lele sehat dan cepat tumbuh," terang Sugiono, peternak yang merupakan pensiunan pegawai negeri sipil (PNS).

Lantaran mengaku lebih berkualitas, Suparto, peternak lain, bilang harga jual lele herbal dari peternak Rp 16.000 / kg dan di pasaran bisa sampai Rp 20.000 / kg. Sementara harga jual lele biasa yang umumnya dari Medan dan Binjai cuma Rp 14.000 - Rp 14.500 / kg.

Meski melego dengan harga lebih tinggi, lele herbal di kampung ini tak kekurangan pembeli. "Kami sampai kewalahan menghadapi agen yang datang ke sini. Tadi pagi ada yang pulang tidak bawa hasil karena sudah keduluan," cerita Suparto. (bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anastasia Lilin Yuliantina