KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Gizi Nasional (BGN) masih mengevaluasi uji coba penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) secara prasmanan yang telah diterapkan di lebih dari 60 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Evaluasi tersebut mencakup pelaksanaan di lapangan serta dampaknya terhadap jumlah sisa makanan. Uji coba baru berjalan selama tiga hari sejak 5 Oktober 2026. Dengan waktu pelaksanaan yang masih singkat, BGN belum dapat menyimpulkan efektivitas skema prasmanan, termasuk terkait potensi pengurangan makanan yang terbuang. Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan evaluasi dilakukan setiap hari dengan melibatkan SPPG dan sekolah yang menjadi lokasi uji coba. Baca Juga: KKP Dorong Hilirisasi Rumput Laut, Investasi dan Ekspor Jadi Target “Ini baru berjalan tiga hari sejak 5 Oktober. Evaluasi tentu kami lakukan tiap hari, baik ke SPPG maupun ke sekolah,” ujar Tysa kepada KONTAN, Rabu (7/10). Untuk memperkuat evaluasi, BGN juga menerjunkan tim ke sejumlah SPPG dan sekolah pilot. Tim tersebut memeriksa pelaksanaan skema prasmanan sekaligus memastikan pengisian format pelaksanaan berjalan sesuai kebutuhan evaluasi. “Saat ini tim dari BGN tengah menyebar ke beberapa SPPG dan sekolah pilot untuk cek pelaksanaan dan pengisian format pelaksanaan,” kata Tysa. Hingga hari ketiga pelaksanaan, BGN belum menyampaikan data terkait jumlah sisa makanan dari uji coba tersebut. Karena itu, belum dapat diketahui apakah penyajian secara prasmanan sudah berdampak terhadap pengurangan makanan yang terbuang. Selain data hasil evaluasi, BGN juga belum merilis secara rinci daftar sekolah yang menjadi lokasi uji coba dari lebih dari 60 SPPG tersebut. BGN masih melakukan pemantauan di sejumlah SPPG dan sekolah pilot dalam beberapa hari ke depan untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih lengkap. Baca Juga: Soal Keputusan MK, Wapres Gibran Bilang Begini
BGN Masih Evaluasi Efektivitas Uji Coba MBG Prasmanan di 60 Lebih SPPG
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Gizi Nasional (BGN) masih mengevaluasi uji coba penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) secara prasmanan yang telah diterapkan di lebih dari 60 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Evaluasi tersebut mencakup pelaksanaan di lapangan serta dampaknya terhadap jumlah sisa makanan. Uji coba baru berjalan selama tiga hari sejak 5 Oktober 2026. Dengan waktu pelaksanaan yang masih singkat, BGN belum dapat menyimpulkan efektivitas skema prasmanan, termasuk terkait potensi pengurangan makanan yang terbuang. Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan evaluasi dilakukan setiap hari dengan melibatkan SPPG dan sekolah yang menjadi lokasi uji coba. Baca Juga: KKP Dorong Hilirisasi Rumput Laut, Investasi dan Ekspor Jadi Target “Ini baru berjalan tiga hari sejak 5 Oktober. Evaluasi tentu kami lakukan tiap hari, baik ke SPPG maupun ke sekolah,” ujar Tysa kepada KONTAN, Rabu (7/10). Untuk memperkuat evaluasi, BGN juga menerjunkan tim ke sejumlah SPPG dan sekolah pilot. Tim tersebut memeriksa pelaksanaan skema prasmanan sekaligus memastikan pengisian format pelaksanaan berjalan sesuai kebutuhan evaluasi. “Saat ini tim dari BGN tengah menyebar ke beberapa SPPG dan sekolah pilot untuk cek pelaksanaan dan pengisian format pelaksanaan,” kata Tysa. Hingga hari ketiga pelaksanaan, BGN belum menyampaikan data terkait jumlah sisa makanan dari uji coba tersebut. Karena itu, belum dapat diketahui apakah penyajian secara prasmanan sudah berdampak terhadap pengurangan makanan yang terbuang. Selain data hasil evaluasi, BGN juga belum merilis secara rinci daftar sekolah yang menjadi lokasi uji coba dari lebih dari 60 SPPG tersebut. BGN masih melakukan pemantauan di sejumlah SPPG dan sekolah pilot dalam beberapa hari ke depan untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih lengkap. Baca Juga: Soal Keputusan MK, Wapres Gibran Bilang Begini
TAG: