KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Gizi Nasional (BGN) berencana memperluas uji coba sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga 5.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sampai akhir 2026. Perluasan ini akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan dapur, sekolah, serta kebutuhan biaya operasional. Kepala BGN Sudaryono mengatakan, uji coba awal selama sepekan menunjukkan respons positif dari siswa.
Baca Juga: Kemenhut Jatuhkan Sanksi ke 32 Perusahaan, Lima Izin Dicabut akibat Karhutla Sistem prasmanan dinilai membuat makanan disajikan lebih hangat dan segar, sekaligus memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil tambahan porsi jika makanan masih tersedia. “Kalau berdasarkan piloting MBG seminggu ini, kita lihat dari sisi tingkat kebersihannya lebih bagus. Kemudian, kesegaran makanan yang disajikan lebih baik, lebih hangat. Antusiasme siswanya juga lebih senang karena selain porsi yang dia dapat, kalau masih ada sisa masih bisa nambah,” ujar Sudaryono kepada wartawan seusai rapat koordinasi terbatas bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan, Senin (19/10/2026). Meski demikian, BGN masih mengkaji kebutuhan operasional sebelum memperluas penerapan sistem tersebut. Aspek yang menjadi perhatian antara lain kebutuhan tenaga kerja, biaya operasional, serta kesiapan sekolah dalam mendukung pelaksanaan MBG dengan mekanisme prasmanan. Selain kesiapan fasilitas, edukasi kepada siswa juga diperlukan agar pembagian makanan berlangsung tertib.
Baca Juga: Menko Polkam Dudung: Malaysia Siapkan Tiga Pesawat Bantu Tangani Karhutla Sudaryono menilai, penerapan sistem ini perlu disesuaikan dengan usia siswa, terutama anak-anak di kelas awal sekolah dasar yang masih membutuhkan pendampingan saat mengambil makanan. BGN menargetkan, uji coba dapat menjangkau sedikitnya 1.000 SPPG hingga akhir tahun. Jika kesiapan operasional memungkinkan, jumlah tersebut diharapkan dapat meningkat hingga 5.000 SPPG. “Saya berkeinginan, ini keinginan ya, paling tidak sampai dengan akhir tahun minimal 1.000, paling tidak ada sampai dengan 5.000, kita syukur-syukur bisa kita lakukan,” kata Sudaryono. Ia menjelaskan, uji coba sistem prasmanan merupakan bagian dari upaya BGN mempelajari praktik penyelenggaraan program makan bergizi di negara lain, kemudian menyesuaikannya dengan kondisi di Indonesia.
Baca Juga: Prabowo Perintahkan Penanganan Karhutla Lebih Masif, TNI Kerahkan Hercules dan Casa Menurut Sudaryono, penerapan sistem tersebut mengacu pada praktik yang telah berjalan di sejumlah negara, tetapi tetap membutuhkan penyesuaian agar sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan MBG di dalam negeri. Keterlibatan siswa dalam mengambil makanan juga diharapkan menjadi sarana edukasi selama program berlangsung. “Jadi ya menurut saya inovasi penting ya, tapi yang jelas inovasi prasmanan yang kita lakukan ini sifatnya adalah
benchmarking saja. Kita lihat
success story di banyak negara seperti apa, kita copy (salin) kemudian kita modifikasi sedikit sehingga harusnya sih tidak susah gitu lho karena memang sudah ada best practice-nya,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News