KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Gizi Nasional (BGN) menaikkan status penanganan kasus keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari sebelumnya dikategorikan sebagai kejadian menonjol menjadi kejadian fatal.
Keputusan itu diambil menyusul insiden dugaan keracunan yang menimpa ratusan siswa dan guru di SMK Negeri 6 Semarang, Jawa Tengah. Kepala BGN, Sudaryono, mengatakan perubahan status tersebut diputuskan dalam rapat pimpinan BGN pada Senin (3/8/2026).
Menurutnya, setiap kasus keracunan kini diperlakukan sebagai kejadian fatal karena menyangkut keselamatan dan kesehatan penerima manfaat program. "Sesuai dengan rapat tadi kami putuskan bahwa keracunan menjadi kejadian fatal. Ini menyangkut nyawa seseorang, kondisi kesehatan seseorang. Kami berharap ini menjadi kasus yang pertama dan terakhir semenjak saya menjadi Kepala Badan," ujar Sudaryono dalam keterangan resmi, Senin (3/8/2026).
Baca Juga: Ada Putusan MK, Anggaran MBG Bakal Dipangkas? Perubahan kebijakan itu merupakan tindak lanjut atas insiden dugaan keracunan di SMK Negeri 6 Semarang. Sebelumnya, Sudaryono meninjau langsung para korban di RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum pada Sabtu (1/8/2026). Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Semarang, sebanyak 707 orang yang terdiri dari 693 siswa dan 14 guru diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Jumat (31/7/2026). Mayoritas korban mengalami pusing, mual, muntah, dan diare. Dari jumlah tersebut, 13 orang sempat menjalani perawatan di rumah sakit maupun puskesmas dan kini kondisinya telah membaik. Menurut Sudaryono, hasil investigasi awal mengarah pada dugaan penggunaan beberapa bahan makanan yang masih menunggu hasil uji laboratorium, seperti daun singkong dan bumbu rendang. Selain itu, makanan diduga dimasak terlalu lama sebelum didistribusikan kepada para siswa.
Baca Juga: BGN Bantah MBG Jadi Penyebab Berkurangnya Anggaran Negara untuk Program Lain "Hasil laboratorium masih kami tunggu sekitar lima sampai tujuh hari kerja. Dari investigasi sementara, ada beberapa bahan yang sedang diuji dan diduga proses memasaknya dilakukan jauh lebih awal," katanya. Sebagai langkah penanganan, BGN telah menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi yang memasok makanan ke SMK Negeri 6 Semarang. Surat peringatan juga diberikan kepada mitra, yayasan, pengelola SPPG, hingga koordinator lapangan sambil menunggu hasil investigasi selesai. Ke depan, setiap SPPG yang diduga menjadi sumber insiden keamanan pangan akan langsung disuspensi untuk menjalani investigasi menyeluruh. Pemeriksaan mencakup hasil uji laboratorium, penerapan standar higiene dan sanitasi, kepatuhan terhadap prosedur operasional, hingga evaluasi terhadap personel yang bertanggung jawab. "Setiap ada kasus keracunan, dapur atau SPPG langsung kami
suspend. Kepala SPPG kami copot, kemudian kami investigasi apakah terjadi kelalaian atau ada unsur lain. Hasil investigasi itu menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya," tegas Sudaryono. Baca Juga: BGN Temukan Anomali di 414 Dapur MBG, Dana Rp 311,2 Miliar Dikembalikan ke Negara Selain memperketat penegakan disiplin, BGN juga mempercepat penerapan sistem digital untuk memantau seluruh proses produksi makanan MBG, mulai dari waktu memasak, penggunaan bahan baku dan bumbu, hingga distribusi. Sistem tersebut diharapkan meningkatkan pengawasan dan mencegah terulangnya kasus serupa di kemudian hari. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News