BHP Prediksi Gangguan Energi Berpotensi Hambat Upaya Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca



KONTAN.CO.ID - MELBOURNE. Kenaikan harga komoditas energi akibat konflik di Iran bukan Cuma menyebabkan krisis energi di sejumlah negara. Gangguan ini, bila berkelanjutan, akan menghambat upaya mengurangi emisi gas rumah kaca.

Bloomberg melaporkan, perusahaan tambang BHP Group menilai gangguan energi ini akan membuat negara-negara memprioritaskan keamanan pasokan energi masing-masing.

“Fragmentasi geopolitik telah memposisikan kembali sumber daya dan energi dari komoditas yang diperdagangkan menjadi instrumen kekuatan nasional,” kata Geraldine Slattery, Presiden BHP Australia, di Canberra, Rabu (25/3/2026).


Baca Juga: Ancaman Krisis Energi! Vietnam Amankan Pasokan Minyak Mentah dari Rusia

BHP Australia antara lain mengoperasikan tambang bijih besi hingga tambang tembaga. “Keamanan dan keterjangkauan sumber daya dan energi telah mengalahkan dekarbonisasi rantai pasokan sebagai prioritas kebijakan utama di banyak ekonomi besar,” imbuh Slattery.

Pergeseran tersebut berimplikasi nyata bagi keputusan investasi negara-negara di bidang lingkungan. Slattery juga menilai perkembangan akhir-akhir ini mempengaruhi kecepatan dan jalur dekarbonisasi.

Volatilitas di pasar minyak dan gas sebagai akibat dari konflik di Timur Tengah dan pembatasan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz yang vital, telah mendorong beberapa negara untuk membatasi ekspor bahan bakar. Sementara negara-negara di Asia memilih kembali menggunakan batubara.

Baca Juga: Thailand Biarkan Harga Energi Ikuti Pasar, Siapkan Bantuan untuk Sektor Rentan

Meskipun ada bukti bahwa konsumen berbondong-bondong membeli mobil listrik, sistem tenaga surya, dan teknologi ramah lingkungan lainnya untuk membatasi ketergantungan pada bahan bakar fosil, industri besar menghadapi tugas yang jauh lebih sulit.

BHP, yang berbasis di Melbourne, telah mengurangi emisi operasional lebih dari sepertiga dari angka dasar tahun fiskal 2020. Perusahaan ini kini sedang mengalihkan beberapa lokasi besar ke energi terbarukan dan menggunakan peralatan listrik, termasuk truk pengangkut raksasa.

Namun, BHP menghadapi tantangan dalam mengurangi penggunaan kendaraan bertenaga diesel secara signifikan. Perusahaan ini mengumumkan kepada investor tahun lalu bahwa pengeluaran untuk dekarbonisasi akan melambat hingga tahun 2030-an, seiring perkembangan teknologi yang lambat.Baca Juga: Roland Berger: Asia Masih Menjadi Pusat Pertumbuhan Konsumsi Global

“Dekarbonisasi sektor industri besar bergantung pada teknologi yang belum layak secara komersial dalam skala besar, bergantung pada rantai pasokan yang belum matang, atau kurang memiliki pasar yang mapan,” kata Slattery.

Menurut Slattery, penggantian penggunaan diesel dalam pengangkutan skala besar dan emisi yang tidak terkontrol dari penambangan batubara masih sulit diatasi secara teknis dan komersial.

Rio Tinto Group, perusahaan pertambangan besar lainnya, pada bulan Desember merevisi perkiraan pengeluaran untuk pengurangan emisi hingga tahun 2030 menjadi US$ 1 miliar-US$ 2 miliar, dari perkiraan sebelumnya sebesar US$ 5 miliar-US$ 6 miliar.