JAKARTA. Saat ekonomi serba tidak pasti, pengelolaan likuiditas memiliki peranan sentral dalam menjaga sistem perekonomian. Pasokan uang di pasar perlu dijaga sedemikian rupa agar tetap seimbang. Kelebihan atau kekurangan likuiditas, sama-sama bisa berdampak buruk. Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah cara mengantisipasi keadaan itu. Salah satunya, mengaktifkan instrumen reverse repurchase agreement (repo) jangka pendek Surat Berharga Negara (SBN). Kebijakan ini ditempuh, sejak BI aktif membeli SBN pemerintah dengan memakai cadangan devisa. Reverse repo adalah penjualan SBN milik BI ke bank. Transaksi ini disertai komitmen bank sentral yang akan membeli kembali SBN tersebut pada jangka waktu yang ditentukan. Reverse repo merupakan instrumen untuk menyerap likuiditas di pasar. BI menyediakan layanan ini melalui Variable Rated Tender (VRT). Tenornya mulai 1 hari hingga 12 bulan.
BI aktifkan reverse repo
JAKARTA. Saat ekonomi serba tidak pasti, pengelolaan likuiditas memiliki peranan sentral dalam menjaga sistem perekonomian. Pasokan uang di pasar perlu dijaga sedemikian rupa agar tetap seimbang. Kelebihan atau kekurangan likuiditas, sama-sama bisa berdampak buruk. Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah cara mengantisipasi keadaan itu. Salah satunya, mengaktifkan instrumen reverse repurchase agreement (repo) jangka pendek Surat Berharga Negara (SBN). Kebijakan ini ditempuh, sejak BI aktif membeli SBN pemerintah dengan memakai cadangan devisa. Reverse repo adalah penjualan SBN milik BI ke bank. Transaksi ini disertai komitmen bank sentral yang akan membeli kembali SBN tersebut pada jangka waktu yang ditentukan. Reverse repo merupakan instrumen untuk menyerap likuiditas di pasar. BI menyediakan layanan ini melalui Variable Rated Tender (VRT). Tenornya mulai 1 hari hingga 12 bulan.